April 09, 2020

OVERLORD Bahasa Indonesia Volume 14 Chapter 2 - Part 5

Translator: Sai Kuze

Chapter 2 - Hitungan Mundur Menuju Pembinasaan


OVERLORD Bahasa Indonesia Volume 14 Chapter 2 - Part 5


          Dini hari, tiga hari semenjak hari itu, seorang pria berdiri di atas menara pengawas.

    Dia terlihat berusia lebih dari empat puluh tahun, memiliki kulit yang kecokelatan, dan aromanya lebih mirip dengan sebuah ombak yang menerpa perahu kecil, jelas berbeda dari para tentara. Dari aromanya saja kau bisa mengetahui dirinya merupakan pria yang hidupnya bergantung pada laut.

    Meskipun bagian atas kepalanya benar-benar botak, pinggiran dan belakang kepalanya masih memiliki sisa-sisa dari ketampanan masa mudanya. Dia sedang mencoba yang terbaik untuk menyisirnya ke atas untuk menutupi tanah lapang yang merupakan bagian atas kepalanya.


    Meskipun penampilan fisiknya mengatakan dirinya seorang nelayan, pakaian yang dia kenakan merupakan milik bangsawan kelas satu; dengan demikian, seseorang dapat dengan mudah membedakan statusnya.


    "Woooah - mereka ada di mana-mana-"


    Nada suaranya sama sekali tidak sesuai dengan penampilannya dan pada umumnya tidak bermartabat, tetapi orang ini merupakan sang penguasa wilayah: Earl Naüa.

    Dalam garis pandangannya sekelompok besar zombie yang jumlahnya kira-kira dua puluh kali lebih banyak dari pasukan pertahanan E-Naüru. Pasukan undead menghentikan serangan mereka seperti menunggu sisa pasukan mereka yang tertinggal, tetapi kelihatannya penambahan zombie ke dalam formasi mereka telah mereda, mungkin saja itu sudah keseluruhan dari pasukan mereka. Mengingat itulah situasinya, perang hanya tinggal sehelai rambut.
(TLer: bentar lagi)


    “—Mesikupun begitu, mereka hanya segerombolan zombie. Ini bukan masalah besar.”


    Seseorang yang menyatakan itu merupakan seorang wanita yang berdiri di sebelah Earl.

    Rambut putih bersihnya menari tertiup angin.

    Ada yang mengatakan, rambut putihnya bukan hasil daripada umurnya, dia sengaja mengecatnya.

    Warna asli rambutnya berwarna emas yang menjadi pemandangan umum di seluruh Kingdom. Beberapa tahun yang lalu dia telah mengecat rambutnya berwarna hitam.

    Rambutnya yang dicat bukan untuk kekinian atau untuk bersenang-senang, dia menggunakan penampilannya yang mencolok sebagai semacam iklan untuk party petualangnya. Petualang seperti dirinya bukan hal yang tidak biasa, bahkan ada yang akan mewarnai rambut mereka dengan warna merah muda supaya menjadi terkenal.

    Karena alasan itulah dia mengubah warna rambutnya dari hitam menjadi putih.

    Dari party petualang peringkat adamantite yang aktif sudah terdapat tim dengan julukan 'Red' dan 'Blue', tetapi baru-baru ini julukan 'Black' juga telah diambil. Di dalam komunitas petualang, saat kau menyebutkan warna hitam, pemikiran kebanyakan orang secara alami akan mengacu pada Momon of Darkness. Namun, karena tidak banyak orang yang melihat penampilan Momon yang sebenarnya, dia mempertimbangkan apakah menjaga rambut hitamnya akan berdampak positif pada publisitas mereka atau tidak. Dia menyerah pada ide itu setelah dia mengetahui jika pasangan Momon memiliki rambut hitam yang indah.

    Akibatnya, warna timnya juga berubah dari hitam menjadi putih. Sedangkan untuknya, Skama Herbelot, dia hanya senang jika mereka tidak memasukkan warna ke dalam nama tim mereka, tetapi mereka menamai diri mereka Four Armaments.


    "Mereka jelas tidak tercipta secara alami. Banyak dari mereka terlihat seperti petani, maka mereka tidak mungkin berasal dari Sorcerous Kingdom. Mereka pasti telah menghancurkan desa-desa di sekitarnya dan mengubah mayat mereka menjadi zombie. Sungguh menjijikkan."


    Skama berbicara seolah dia akan muntah.

    Meskipun ada juga beberapa di antara mereka yang memiliki peralatan yang lebih baik - armor kulit, chainmail, dan sejenis armor ringan lainnya - yang memberi kesan jika mereka merupakan tentara yang berubah menjadi zombie, sebagian besar dari mereka hanya mengenakan pakaian biasa, pakaian itu bahkan tidak berkualitas.


    "Bisakah seseorang melakukan itu?"

    “Entah mungkin atau tidak untuk menciptakan zombie sebanyak ini, aku tidak tahu. Tetapi, karena mantra untuk menciptakan undead itu ada, seharusnya itu mungkin kan?”

    "Oh, haaaaaaaah—"


    Earl Naüa menghela nafas dari lubuk hatinya.

    Dalam masa-masa sulit ini, suaranya tidak memiliki sedikit pun urgensi. Ini bisa membuat marah beberapa orang, namun ekspresi Skama tetap tidak berubah.


    "Jika itu masalahnya, tidak bisakah kita membuat pasukan undead kita sendiri untuk menahan mereka?"

    “Jika ada lusinan dari mereka yang menyukai necromancy diluar arcana eksotis dan bisa menggunakan mantra tingkat tinggi karenanya, itu tidak akan sepenuhnya mustahil. Sayang sekali tidak ada di kota ini~.”


    Ada alasan mengapa dia begitu yakin pada dirinya sendiri.

    Earl Naüa telah mengirim permintaan ke Guild Mage, Kuil, Guild Adventurer dan lainnya — dia pada dasarnya mengirim permintaan ke setiap magic caster di kota untuk bergabung dengan mereka dalam menyiapkan pertahanan, dengan harapan dirinya dapat membentuk unit yang seluruhnya terdiri dari magic caster.

    Karena kenyataannya Guild Adventurer memiliki banyak magic caster dan para petualang yang memiliki pengalaman dalam bertempur, party petualang peringkat tertinggi - Four Armaments Skama - dipilih untuk memimpin unit caster ini. Karena alasan itulah, Skama memiliki pengetahuan mendetail tentang setiap magic caster di dalam kota.


    "Begitukah? Lalu— semuanya akan mulus kan? Selama seratus dua puluh tahun — kota ini tidak pernah dikepung semenjak awal didirikan sebagai sebuah desa. Kita benar-benar tidak memiliki pengalaman menghadapi pengepungan.”


    Ini bukan sesuatu yang seharusnya dikatakan penguasa kota ini saat ini.

    Tetap saja, Skama kelihatannya tidak marah dengan ini. Seperti yang dia katakan, seperti biasa, tidak ada satu pun rasa hormat yang bisa terdengar dalam suaranya ketika dia menjawab,


    "Semuanya akan mulus? Kurasa tidak~, Earl. Jika kita tidak bisa memikirkan rencana tentang ini, semua orang akan berubah menjadi undead ~. Semua orang berusaha yang terbaik untuk membantu kita karena mereka ingin menghindari hasil itu~”

    “Aku mengerti— mengapa hal seperti ini harus terjadi selama waktuku. Kalau saja ini tidak terjadi selama 5 tahun lagi, pada saat itu putra tertuaku mungkin akan menggantikanku.”

    “Sial ~. Baiklah, kau sudah mengatakannya, tetapi itu sama bagi kami. Mengapa, mengapa ini harus terjadi ketika kami memilih untuk datang ke kota ini. Jika itu terjadi untuk bulan-bulan mendatang, kami mungkin akan berpindah ke kota lain - kota yang lebih besar~”

    "Apa— Tunggu sebentar oke? Ayo kita berpikir dengan jernih. Tolong jangan tinggalkan kota ini!"

    “Jika kita benar-benar ingin melarikan diri, sekarang merupakan waktu terbaik! Lihatlah, di sana."


    Skama menunjuk ke arah dua undead yang berada di pucuk pimpinan pasukan zombie.

    Mereka cukup mudah dikenali mengingat tingginya sekitar dua kepala lebih tinggi dari zombie di sekitarnya. Sehubungan dengan tekanan yang luar biasa dan membuat mereka semakin terlihat menonjol akan kehadirannya, kekuatan mereka terlihat jelas.
  
    Para undead membawa bendera di tangan mereka.


    "Sorcerous Kingdom."

    "Yup ... apakah Earl berpartisipasi pada pertempuran di dataran Katze?"

    "Hmm? Aku hanya mengirim beberapa bawahan tepercayaku pada pertempuran itu. Baik diriku maupun keluargaku tidak berpartisipasi... tetapi, sepertinya mereka tidak akan pernah kembali.”

    "Umm ... Semoga mereka bisa beristirahat dengan tenang di sisi Tuhan. Hanya dua undead spesial yang dikirim oleh Sorcerer King, yang mampu membantai 200.000 tentara... Apakah kau mempercayai mereka lemah?"

    "Kurasa tidak." mendesah. "-mereka pasti sangat kuat—"

    "Benar ... Apakah kau tidak marah? Jika mereka menilai hanya membutuhkan dua undead untuk menghancurkan kota ini?”

    "Tiiidak— Daripada itu, aku hanya memikirkan bagaimana kita bisa selamat dari semua ini."


    Sebagai penguasa wilayah ini, kata-kata itu cukup tidak pantas, namun sederhananya, itu merupakan kebenaran.


    "Meskipun aku ingin mengirim utusan untuk menyatakan keinginan kita untuk menyerah, aku sangat meragukan itu akan berhasil."

    “Tidak bisakah melarikan diri melalui laut? Kau mungkin sudah mempersiapkan itu kan?”


    Skama bertanya apa yang ada dalam pikiran semua orang selama pertemuan mereka sebelumnya, tetapi tidak ada yang mengatakan dengan keras.

    Earl tersenyum dengan ekspresi pahit dan tidak segera menanggapi. Daripada menyembunyikan sesuatu, itu lebih mungkin dirinya hanya mencoba untuk mencari tahu apa yang sebenarnya dimaksud oleh Skama dengan pertanyaan itu.

    Meskipun dia tidak terlalu mengenal Earl, keduanya memiliki cukup banyak interaksi karena pekerjaan mereka. Dia tahu sejak saat itu bahwa Earl cukup cerdas.

    Apa yang disayangkan adalah meskipun putra Earl merupakan pengganti yang cocok untuknya, dia tidak sehebat ayahnya. Bahkan, ada seseorang yang mempercayai jika putranya bisa sehebat ayahnya dengan mendapatkan beberapa pengalaman.


    "Ahem. Tentu saja, tetapi kita tidak bisa membawa semua orang keluar dari kota ini menggunakan kapal. Bahkan jika kita melakukan banyak upaya untuk mendaratkan warga menuju pantai terdekat, apa yang akan kita lakukan dengan kondisi pangannya? Ke mana kita bisa melarikan diri? Dan lebih banyak pertanyaan terus muncul..."

    "Tetapi jika itu hanya Earl dan keluarganya, mereka seharusnya bisa keluar dengan aman kan?"


    Earl merenung sejenak dan menjawab,


    "Kurasa, tapi itu akan menjadi pilihan terakhir. Ucapan seperti 'semua warga tolong mengevakuasi menuju kota, keluargaku dan aku akan keluar dari sini lebih dulu' atau sesuatu seperti itu akan sangat membebani pikiranku— "


    Biasanya ketika sebuah kota telah diambil alih, penguasanya akan dibantai atau dipaksa tunduk. Warga di sisi lain - meskipun harta mereka mungkin dijarah - hanya akan berada di bawah manajemen baru. Membantai warga sipil di kota itu sama dengan membunuh angsa yang bertelur emas.

    Terkecuali jika meratakan kota memiliki manfaat bagi penjajahnya, mereka tidak akan pernah melakukan hal seperti itu.

    Namun-


    “Pasti kau sudah mendengarnya kan? Ucapan Baron yang telah berhasil lolos dari Sorcerer King — invasi Sorcerous Kingdom menuju tempat ini dan ucapan para pengungsi dari desa-desa di wilayahku. Situasi ini tidak terlihat terlalu bagus untuk kita.”

    "Maksudmu seharusnya ada lebih banyak pengungsi kan?"

    "Ya, benar," jawab Earl.


    Mereka yang telah mengungsi lebih dulu sudah ada di sini, tetapi jumlahnya terlalu sedikit dibandingkan dengan jumlah penduduk di daerah sekitarnya. Apa yang terjadi pada orang-orang yang tertinggal atau tidak bisa keluar?

    Apakah mereka tidak ingin melarikan diri karena mereka sekarang hidup di bawah utopia? Atau apakah mereka di bawah kondisi pengawasan di mana tidak ada semut pun yang bisa melarikan diri? Atau apakah mereka semua dibawa menuju Sorcerous Kingdom? Ketiganya merupakan satu-satunya hasil optimis yang bisa dia pikirkan.

    Tetapi, setelah melihat zombie yang berubah menjadi petani, dia merasa tidaklah mungkin Sorcerous Kingdom memperlakukan mereka dengan baik.


    "Meskipun dia memerintah E-Rantel, sepertinya dia masih monster yang tidak bisa mentolerir mahluk hidup—"

    “Jadi tujuan dari perang ini adalah untuk mengubah musuh-musuh mereka yang kalah menjadi tentara untuk meningkatkan pasukan mereka. Tentara yang tidak tidur, tidak makan, tidak lelah, tidak takut, dan benar-benar setia. Huh, masuk akal mengapa mereka tidak menunjukkan belas kasihan kepada musuh mereka kan?”

    “Itu masuk akal, untuk musuh kali ini. Jika mereka mencoba menaklukkan sebuah kota dan memaksa warganya untuk bekerja untuk mereka, mereka tidak akan melakukan sesuatu seperti ini ... Mungkin mereka tidak berniat membiarkan penduduk Kingdom tetap hidup. Jika itu masalahnya, lalu bagaimana kita bisa melarikan diri?”


    Apakah Earl mencoba berempati dengan dirinya atau membuatnya berempati dengannya?

    Skama mengambil sesuatu.

    Dia merupakan petualang terkuat di kota ini. Jika dirinya meninggalkan kota ini, apa yang bisa menjadi kemenangan bisa berubah menjadi kekalahan. Itulah sebabnya Earl berusaha membuatnya berpikir jika tidak ada tempat untuk melarikan diri.

    Ketika Skama hendak mengatakan sesuatu, beberapa gangguan telah terjadi di suatu tempat di dekat mereka.

    Demi privasi - atau lebih baik untuk dikatakan demi mempersiapkan pertahanan, keduanya menyelinap pergi untuk mengamati formasi musuh.

    Orang-orang yang muncul di depan Skama merupakan rekan satu timnya. Timnya, Four Armaments, memiliki empat anggota termasuk dirinya. Rasio pria dan wanitanya sama. Selain Skama yang sebagai warrior, terdapat juga rogue, priestess, dan seorang magic caster dari sekolah pembangkitan. Komposisi tim mereka cukup seimbang.

    Di belakang rekan satu timnya merupakan para magic caster yang berkumpul dari seluruh kota.

    Jumlah magic caster kurang dari lima puluh, tetapi jumlahnya tersusun sebagai tentara-tentara hebat.

    Alasan mengapa mereka bisa mengumpulkan begitu banyak magic caster karena ada celah pada aturan yang tak terucapkan di antara para petualang- mengenai aturan bagaimana mereka tidak bisa berpartisipasi dalam perang antar kerajaan.

    Hal ini tidak akan mungkin terjadi jika Sorcerous Kingdom mengirim tentara manusia, tetapi pasukan mereka terdiri dari undead - yang hampir pasti mereka merupakan warga sipil Kingdom yang dijadikan undead.

    Mereka pada dasarnya bisa memperlakukannya sebagai suatu kebetulan pasukan undead ini membawa bendera Sorcerous Kingdom.

    Mereka menggunakan alasan itu karena mau bagaimanapun aturan itu tidak bisa dipakai jika lawan mereka ini merupakan undead yang mampu mengubah jasad penduduk desa menjadi undead lain.

    Terbentuknya unit caster dari orang-orang yang berada disini menyiratkan bahwa mereka bersama- yah, tidak semuanya mempelajari sihir itu, maka ini sekedar hipotetis - bisa mengadopsi strategi terus-menerus menghujani [ Magic Arrow ] pada musuh, yang secara teoritis bisa membunuh para dragon.

    Tidak seperti panah biasa, [ Magic Arrow ] terjamin akan terhindar dari skill evoker. Melemparkan skill yang berlevel lebih tinggi hanya akan meningkatkan jumlah proyektil yang dihasilkan dan juga output damage individual dari masing-masing proyektil. Meski begitu, output damage satu proyektil masihlah sangat kecil. Sangat tidak mungkin bagi mereka untuk mengalahkan musuh dengan sekali lempar.
(TLer: skill untuk aggro momon)

    Output damage tidak bergantung dari tempat dimana mantra itu mengenai musuh, yang mungkin itu bisa dianggap sebagai keuntungan.

    Dengan semua itu di dalam benaknya, mantra itu cukup lumayan untuk digunakan dalam sebuah kelompok. Jika mereka membentuk pasukan tentara dari orang-orang yang mempelajari mantra itu, peluang keberhasilannya akan tinggi. Namun, tidak ada catatan sejarah tentang strategi seperti ini pernah digunakan.

    Hal ini dikarenakan untuk mempelajari mantra itu bahkan ditingkat pemula memerlukan banyak upaya dan bakat, tak bisa dihiraukan waktu yang harus diinvestasikan untuk mendidik magic caster. Mengingat lamanya waktu dan sumber daya yang sama, lebih menguntungkan untuk melatih seratus pemanah daripada satu orang magic caster.

    Jika ada beberapa organisme yang secara bawaan bisa menggunakan [ Magic Arrow ] dan mereka membentuk pasukan, potensinya akan sangat menakutkan. Jika bahkan persyaratan bakatnya tak dapat terpenuhi - tidak, lebih aman untuk dikatakan jika itu sangatlah mustahil, karena tidak mungkin ada organisme yang membentuk pasukan dan hanya terdiri dari magic caster, sejatinya itu hanyalah khayalan semata.

    Di balik khayalan tentang unit tentara seperti itu terdapat para prajurit di bawah pimpinan Earl dan para petualang yang terampil dalam memanah dan persenjataan jarak jauh lainnya.

    Artinya, mereka yang berkumpul di tembok kota bertujuan untuk menyerang pasukan Sorcerous Kingdom terlebih dahulu.

    Earl Naüa, berdiri di depan mereka semua, megeluarkan suaranya dan berkata,


    “Aku berterimakasih untuk semua orang yang telah berkumpul di sini! Aku ingin mengucapkan terima kasih kepada kalian semua atas bantuan yang kalian berikan."


    Skama tidak bisa lagi merasakan perasaan tidak dapat diandalkan dari nada bicaranya, yang tersisa hanyalah martabat dan kepercayaan diri yang pantas bagi seorang pemimpin.
  
    Sikapnya, merupakan hasil dari menjalani gaya hidup bangsawan, membuat Skama kagum.


    "Terimakasihnya dalam bentuk yang lebih jelas donk!"


    Salah satu teman Skama, sang magic caster, menjawab. Gelombang tawa bisa terdengar di belakangnya. Earl bukanya tidak senang mendengar apa yang dikatakan salah satu perwakilan petualang. Sebaliknya, senyum yang terwujud wajahnya tulus.


    “Serahkan itu padaku! Kupastikan kalian akan dihargai, bahkan jika petualang lainnya memaksamu untuk mentraktir mereka, kalian tidak akan kehabisan uang. Aku akan menyerahkan hadiah kalian di depan semua orang, di tempat terbuka."

    "Woooo," semua orang mulai bersorak.

    "Tentu saja, itu juga berlaku untuk pasukanku. Meskipun gajimu mungkin tidak sebanyak para petualang, aku memberikan bonus yang cukup besar sehingga kalian tidak perlu lagi khawatir tentang masa depan istri dan anak-anakmu! Tetapi— "Earl beralih ke nada main-main untuk mengatakan," —kalian tidak berpikir untuk menyia-nyiakan kekayaan barumu kan~?"
(TLer: kalimat terakhir ini sepertinya maksudnya 'nyoba yg ena-ena ditempat bordil', CMIIW)


    Dia bisa melihat ekspresi tegang pada tentaranya sedikit mereda.


    "Aku sedang memikirkan bentuk alternatif kompensasinya. Tentunya Earl memiliki beberapa magic item sebagai peninggalan keluarga atau sesuatu seperti itu kan? Lagipula keluarga anda memiliki sejarah yang panjang.”


    Seseorang yang mengatakan itu merupakan seorang wanita yang memancarkan aura seksual. Di lehernya tergantung simbol suci Dewa Bumi, yang terjepit di antara dadanya yang menggairahkan. Ini bisa disebut penistaan kan?.

    Wanita ini, Lilynette Piani, juga salah satu dari teman Skama dan pastinya bukan (mengacu kalimat selanjutnya), dia tidak mengenakan pakaian priestess itu karena dirinya merupakan seorang pelacur yang melayani fetish kliennya atau sesuatu seperti itu.


    "Huhhh. Peninggalan magic item rasanya sangat sulit. Itu memang ada, aku memiliki magic item yang diturunkan dari generasi ke generasi. Sudah banyak orang yang mengetahuinya, sering disebut Holy Sword of Pentechromata.”


    Itu merupakan pedang panjang yang dimantrai dengan elemen api, petir, asam, sonik, dan es yang memberikan tipe damage tiap jenis elemen ke target yang terpotong.

    Tapi, bilahnya tak runcing sehingga hanya bisa digunakan sebagai senjata tumpul, seperti pedang boneka untuk latihan ilmu pedang. Dia tidak tahu mengapa seseorang akan menciptakan pedang seperti itu. Yang lebih membingungkan, pedang itu tidak memberikan divine damage padahal sebutannya pedang suci, mungkin nama itu diubah generasi setelah penciptaannya sehingga tidak terlalu penting.


    "Aku menginginkan itu ~"


    Lagi pula, itu masih barang yang berharga, maka untuk memberikannya kepada seorang petualang sebagai kompensasi sepertinya sama sekali tidak pantas.


    "Kau menginginkan itu? Hmm, tergantung situasinya aku tidak akan mengesampingkannya sepenuhnya.” Earl melanjutkan dalam lantunan terengah-engah, "anakku - aku berharap kau bisa menjadi selir anakku."


    Ekspresi Skama berubah khawatir.

    Earl telah mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak dia katakan.

    Beberapa petualang memandang ke arah Earl dengan mata terbuka lebar, mereka merupakan orang-orang yang telah mengejar-ngejar cinta Lilynette. Sebagai contohnya, salah seorang yang menatapnya mirip seperti tatapan elang.

    Mungkin lelucon itu telah melewati batas. Tepat ketika Earl Naüa membuka mulutnya untuk meminta maaf, Lilynette bertanya,


    “Earl punya empat anak kan? Istri anda melahirkan putra tertua dan putra ketiga anda. Selir anda melahirkan putra kedua dan putri sulung anda. Um, yang tersulung tak perlu dipertanyakan lagi, maka maksud anda anak mana?”


    Nada suaranya telah berubah sepenuhnya. Dari sikap cerobohnya saat itu hingga keseriusan yang diharapkan dari seorang petualang. Inilah kepribadiannya yang sebenarnya.

    Yang berarti Lilynette benar-benar serius.

    Ekspresi Skama semakin gelap. Dia melirik rekan satu timnya yang lain dengan hati yang dingin menghindari kontak mata dengannya.

    Pengecut itu.


    "... Yang ku maksud yaitu putra ketigaku."

    “Putra ketiga anda? Tapi bukankah anak itu baru berumur dua belas tahun? Seseorang yang bulunya saja belum tumbuh? Menjadi selir anak itu?"
(TLer: Doujinable, I LOVE THIS ONE!!)


    Earl hendak menganggukkan kepalanya ketika dia tiba-tiba membeku.


    "...tunggu sebentar. Bagaimana kau mengetahui usia anakku? Bahkan tanggal lahir putra ketiga seorang bangsawan lokal... Apakah itu informasi yang penting? Atau apakah kalian semua petualang peringkat atas seperti ini?”

    "T-tidak", "Um, tidak", dan penyangkalan lainnya datang dari para petualang lainnya. Lilynette mengabaikan mereka semua dan melanjutkannya sembari mengangkat rambutnya,


    “Hah, baiikkk laaaah. Ahem. Baiklah kalau begitu, aku akan menjadi selir putramu untuk Holy Sword of Pentechro.”


    Earl mengamati Lilynette secara mendetail dan mengalihkan pandangannya menuju Skama seolah-olah dia memiliki pertanyaan yang dirinya ingin dijawab tepat pada saat ini.

    Skama tahu apa pertanyaan itu, dia tahu betul.


    “Padahal akulah yang mengemukakan saran itu. Tunggu, mengapa dia malah ngiler? Apakah dia benar-benar mengejar anakku atau magic item?”

    "Itu yang pertama," Skama mencoba untuk mengatakan, tetapi sebelum kata-katanya dapat mencapai siapa pun, suara riuh terdengar,
(TLer: AND ANOTHER ONE)

    "Dasar bodoh! Buah mentah merupakan buah yang paling memikat dari semuanya kan?”


    Suasana sunyi terpecah saat mereka tahu suara siapa itu. Pada saat yang sama, beberapa petualang telah jatuh ke tanah, akibat fantasi mereka dihancurkan oleh kenyataan yang pahit ini.

    Skama bisa berempati dengan kesedihan para petualang itu.

    {Maaf,} pikirnya. Mereka yang telah mengejarnya pastinya telah memahami pada titik ini mengapa mereka tidak pernah berhasil.

    Preferensi usia.


    "Kupikir kau akan bertanya, 'mengapa selir,' atau yang lainnya."


    Lilynette menanggapi Earl Naüa, yang bergumam pada dirinya sendiri,


    “Ah, ayah mertua-sama. Bahkan jika dia putra ketiga anda, dia masih terlahir dari istri anda. Jika semuanya berjalan dengan baik, ia seharusnya bisa mendapatkan gelar Baron dan sepetak kecil tanah kan? Dengan mengingat hal itu, akan sangat kurang ajar meminta petualang untuk menjadi istrinya, bahkan jika itu merupakan yang terkuat kan? Meskipun saya memiliki koneksi dengan kuil, itu masih, anda sudah tahu kan. Anda berencana untuk mengatakan sesuatu seperti 'jika kontribusimu luar biasa dalam pertempuran ini, aku akan mempertimbangkan untuk membiarkanmu menjadi istrinya,' kan? Tetapi jika saya harus puas dengan tawaran menjadi istrinya sendiri, maka tidak akan ada cara saya bisa mendapatkan Holy Sword of Pentechromata. Bagaimanapun, istri putra ketiga anda yang mewarisi harta peninggalan keluarga akan mengguncang kedamaian keluarga kita~”


    Dia sudah memanggilnya ayah mertua.


    "... Aku telah meremehkanmu ... Jika kau mengatakannya dari awal, aku akan menjadikanmu selir putra sulungku."

    "Ah, lima belas ... tunggu dulu ... tujuh belas tahun ke atas akan terlalu tua bagiku, ayah mertua-sama."
(TLer: ANOTHER ONE!!)


    Earl terus melirik Skama namun gadis itu mencoba untuk mengabaikannya. Ekspresi Earl Naüa terlihat seolah-olah dirinya baru saja menerima pukulan berat dan ingin meneriakinya licik, bahkan dia pun tak mendapat simpati dari kerumunan orang.


    "Umm, sesuatu yang harus aku tanyakan— bahkan jika itu merupakan putra ketiganya, masih akan ada hari ketika dia berusia melewati 17 tahun!"

    “Itu benar— kalau saja dia ras dengan umur yang lebih panjang. Tetapi jika itu yang terjadi, bukankah aku yang akan menua lebih cepat ...? Jadi, apa yang kau katakan dapat diterima olehku."

    “Kau pikir itu layak untuk ditekankan !? Kau berpikir, dari semua hal yang telah aku katakan sejauh ini, itu merupakan hal yang paling layak untuk ditekankan!?”

    "Eh? Ayah mertua-sama. Tenangkan diri anda, kenapa anda menjadi tidak tenang?"

    "... Kau adalah orang terakhir yang ingin aku dengar mengatakan hal itu."


    Berdasarkan penilaian pribadi Skama, Lilynette merupakan seseorang yang jujur dan peduli sehingga dia pastilah menjadi istri yang baik. Namun, tak ada yang bisa ditunjukkan saat ini.

    Jika ini berlanjut lebih lama lagi, itu tidak hanya akan memalukan temannya, tapi itu akan membuat reputasi seluruh timnya mendapati julukan yang aneh. Skama tidak ingin rambut putihnya diidentifikasi untuk konotasi negatif.


    "... Maka, Earl. Meskipun kami menghargai usaha anda untuk mengurangi ketegangan kami dengan candaan, kami harus melanjutkan persiapan kami untuk pertempuran. Bisakah saya meminta anda untuk kembali ke pusat komando?"


    Bahkan jika dia tetap disini, dirinya, yang tak memiliki keterampilan tempur tidak akan bisa berbuat banyak. Pekerjaannya lebih baik dilakukan di tempat lain. Earl Naüa mengangguk pada proposal logis ini, mungkin karena keinginannya untuk berada sejauh mungkin dari Lilynette.


    “Baiklah, kalau begitu. Semuanya, mohon kerjasamanya!”


Mini-FAQ
Q: Nyampe mana?
A: 220/568
Q: Chapter 2 ampe halaman brapa?
A: 279


Jika ada kalimat/kata/idiom yang salah di terjemah atau kurang enak dibaca, beritahu kami di kolom komentar, dilarang copas dalam bentuk apapun macam-macam kuhajar kau.


PREVIOUS | INDEX | NEXT

Baca doank, komen kaga !!!
Ampas sekali kalian ini



Peringatan: Novel ini versi bajakan !!! Author ngambek, auto delete!! Belilah Novel aslinya jika sudah tersedia!!

72 comments:

  1. Lanjutkan min...
    Jangan sampe kendor semangatnya min

    ReplyDelete
  2. Pfttttt mantap min lanjutkan hihi (k) x-)

    ReplyDelete
  3. Bro kasih lencana dong buat Iqbal Mahmud Maftuqin:*

    ReplyDelete
  4. Sebuah part yang sangat doujinable

    ReplyDelete
  5. udah gk sabat minn....mantap lanjutkan

    ReplyDelete
  6. Ok mantap min.. Semoga shat slalu, rajin" Upload mid, mna lagi lockdown, semangat min..

    ReplyDelete
  7. translate masih lancar kan min ? x-)
    lanjut min semoga sehat selalu

    ReplyDelete
  8. Chapter ini terasa kurang... Kenapa ya... Obrolan menuju kematian kah.. Sehat dan update terus tiap hari min... Thanks

    ReplyDelete
  9. Selalu ada 1 part untuk side karakter hihi

    ReplyDelete
  10. ngantok gua baca nya coy
    volume yg membosan kn

    ReplyDelete
  11. lanjut min

    #stayathomeandkeeptranslate

    ReplyDelete
  12. Min udh min jangan keluar rumah min stay home stay TL min
    Sehat selalu mimin buat kasi kita hiburan di masa kelam ini min

    ReplyDelete
  13. Lgi lgi tl ny membahas yg tydak penting :/

    ReplyDelete
  14. gak sabar pengen klik 'next' chapter berikutnya

    ReplyDelete
  15. Wah part ampas nih obrolan curhatan yg ga penting

    ReplyDelete
  16. Lanjuttt..min...mksh sdh di translate kan..

    ReplyDelete
  17. Lanjot min smangat tros

    ReplyDelete
  18. Yng ke 6 nya lama min... Gak sabar

    ReplyDelete
  19. Kok ngk ad tomboo next sih anjingn

    ReplyDelete
  20. duhh onesan~ baru muncul dah bikin patah hati

    ReplyDelete
  21. Semapt2nya mereka bahas gituan sebelum diserang ๏_๏

    ReplyDelete
  22. bakar bakar bakar
    we love barbar game

    ReplyDelete
  23. Gak bahas perang malah bahas la tjur

    ReplyDelete
  24. Komen karna adminnya ngegas tapi sip pol bahasa translate funny dan mudah dimengerti

    ReplyDelete
  25. Lily natte seorang pedofil asu kwkwkwkekw

    ReplyDelete
  26. Maaf karena saya oranf umum,apaitu doujinable ? Dan apa itu doujin ?

    ReplyDelete


EmoticonEmoticon