April 05, 2020

OVERLORD Bahasa Indonesia Volume 14 Chapter 2 - Part 3

Translator: Sai Kuze

Chapter 2 - Hitungan Mundur Menuju Pembinasaan


OVERLORD Bahasa Indonesia Volume 14 Chapter 2 - Part 3


  Di salah satu ruangan yang terletak di lantai 9 Makam Besar Nazarick, sekitar sebulan setelah peperangan diumumkan. 

Di salah satu ruangan yang tadinya disediakan untuk anggota guild baru, berkumpulah para Guardian dan Ainz. Mereka duduk di sekitar meja yang disusun menyerupai huruf U, membaca dokumen-dokumen yang disiapkan untuk rapat ini.

Ngomong-ngomong, tidak hanya para guardian yang berada di ruangan ini. Dibelakang setiap guardian terdapat juga para maid. Dan yang ada dibelakang Ainz adalah Pestonya. Para maid fokus membantu menyelesaikan pekerjaan tanpa sepatah katapun. 


Ainz tidak bisa memahami alasan mereka begitu sunyi, tetapi ini merupakan tanda dari keinginan mereka untuk diperlakukan sebagai alat.


"Umu..." 


Dengan itu, Ainz hanya akan mengabaikannya sesuai keinginan mereka sendiri. 

Ainz membaca materi rapat dengan sungguh-sungguh. Dan Pestonya yang berdiri di belakangnya membuatnya merasa terganggu, namun dia berusaha untuk tetap berkonsentrasi. 

Karena mereka akan berdiskusi setelah ini. Akan terasa memalukan jika Ainz hanya mengatakan sesuatu yang konyol, dan itu membuatnya gelisah. 

Bagaimanapun, ini berbeda dari dokumen-dokumen yang biasanya Albedo kirimkan dari Nazarick mengenai politik, ekonomi, dan hukum, sesuatu seperti ini jauh lebih mudah untuk dipahami olehnya.


Bahkan jika diutarakan dengan sopan, Ainz hanya memiliki kecerdasan rata-rata. Jika meminta seseorang untuk menemukan kualitas dalam dirinya yang akan membuatnya memenuhi syarat untuk memerintah suatu kerajaan itu merupakan hal yang mustahil. Bukan berarti dirinya pemalas, pada kenyataannya dia merupakan tipe yang rajin untuk mencoba yang terbaik dalam segala hal yang dilemparkan kepadanya. Ini semakin diperburuk oleh kesalahpahaman yang dipegang oleh NPC Nazarick, yang kecerdasannya jauh lebih tinggi daripada miliknya. Untuk memenuhi harapan mereka, Ainz tidak bisa bermalas-malasan.

Pada awalnya, dia melakukannya karena keinginannya untuk menjaga kesetiaan NPC, tetapi saat ini lebih dari keinginannya sebagai sosok ayah untuk tidak mengecewakan anak-anaknya.

Hal ini sampai pada titik di mana dirinya membaca buku tentang pengembangan diri dan bisnis. Dia juga telah mencoba yang terbaik untuk meningkatkan dirinya pada strategi pertempuran, satu-satunya mata pelajaran yang bisa dirinya anggap keahliannya.

Meskipun aman untuk menyerahkan semuanya kepada Albedo dan yang lainnya, masih ada banyak hal yang mereka anggap perlu untuk dikonsultasikan dengan Ainz. Jika dia mengatakan sesuatu yang bodoh ketika waktu itu tiba dan mereka harus menanggapi dengan, "Seperti yang Ainz-sama inginkan, itu akan dilakukan," dan segera melakukannya, itu cukup bisa mengakibatkan kerusakan yang parah. Untuk menghindari hasil itu, perkembangan individu Ainz sangatlah penting.

Karena itu, Ainz menaruh minat khusus pada dokumen ini dan bahkan lebih fokus pada dokumen itu daripada biasanya.

Ainz, setelah menyelesaikan sebagian besar dan mengkonfirmasi waktu yang ditentukan telah tiba, berkata,


"Sekarang. Apakah semua orang sudah selesai membaca? "

"Ya, Ainz-sama."


Sebagai perwakilan mereka, Albedo melirik semua orang dan menjawab.


“Bagus sekali. Sekarang - tunggu, sebelum itu. Meskipun sudah sebulan sejak kita mendeklarasikan perang melawan Kingdom, mereka belum menyadari invasi kita sama sekali. Mereka pasti masih berpikir pasukan kita masih bersembunyi di E-Rantel. Demiurge, kerja bagus. Kemampuanmu untuk sesegera mungkin mengurus semuanya sehingga tidak ada satupun informasi yang bocor benar-benar mengesankan.”

"Saya sangat bersyukur menerima pujian masterku."

"Dan juga pada hal yang sama, mengancam sebagian bangsawan Kingdom untuk memberontak juga merupakan prestasi luar biasa, Albedo."

"Terima kasih banyak, Ainz-sama."


Albedo, seperti Demiurge, menundukkan kepalanya.


“—Umu. Masalah saat ini lebih penting, jadi laporkan kepadaku secara rinci tentang apa yang telah kalian lakukan setelah ini. "


Ainz mengetuk salah satu halaman di dokumen dengan punggung jarinya dan mengkonfirmasi mereka berdua mengerti apa yang dirinya maksud. Dia mengangguk dengan cara yang cocok dengan statusnya sebagai penguasa dan mengamati para guardian di depannya. Meskipun para maid yang berada di dalam penglihatannya sedang menatapnya dengan mata serius, dia menahan keinginan untuk memperhatikan mereka.


“Baiklah, mari kita bertukar pendapat tentang masalah ini. Pertama-tama, kenyataan kita dapat menaklukkan kota-kota bahkan ketika taktik ini diterapkan sangat membuatku senang. Cocytus, kau sudah melakukannya dengan baik."

"Saya. Berterimakasih. Atas. Pujiannya. Master. Ku. Namun. Ini. Hanya. Bisa. Terjadi. Karena. Pasukan. Undead. Yang. Di. Pinjakman. Ainz. Sama. Bisa. Di. Katakan. Ini. Merupakan. Prestasi. Ainz. Sama. Tidak. Salah. Juga. Mengatakan. Saya. Tidak. Melakukan. Apa. Apa."

"Seperti yang dikatakan Cocytus—"


Ainz mengulurkan tangannya untuk menghentikan Albedo sebelum dia bisa menyelesaikan kalimatnya.


“—tak perlu menyanjungku. Cocytus, hanya terimalah apresiasi dariku. Aku sudah mengatakannya berulang kali, kali ini kau melakukan pekerjaan dengan sangat baik."

"Ya!. Terima. Kasih. Banyak!"

“Bagus sekali. Lalu, sekarang, kita telah menaklukkan kota-kota Kingdom tanpa kesulitan sama sekali.”


Pada permulaan perang antara Sorcerous Kingdom Ainz Ooal Gown dan Kingdom, mereka telah mengadopsi strategi untuk menyerang bagian timur terlebih dahulu dan kemudian bergerak menuju utara. Sisi barat Kingdom - di mana ibukota berada - sama sekali tak di incar.

Tujuan utama dari strategi ini adalah untuk mencegah bala bantuan dari kerajaan-kerajaan lain yang ikut campur dalam perang ini, dan untuk mengepung Kingdom dengan mendapatkan kontrol atas perbatasan dengan Council State dan lainnya.

Ini merupakan strategi Cocytus, sebuah langkah yang Ainz sendiri juga anggap luar biasa.


“Hasil ini sangatlah memuaskan - Lalu, Demiurge dan Albedo, mengenai penguncian informasi, laporan menunjukkan sangat mungkin rencana itu akan berhasil. Pertanyaanku adalah, dalam kondisi apa itu akan gagal? Demiurge, sebagai perwakilan berikan jawabanmu.”

"Ya! Kami telah sepenuhnya membangun penjagaan di setiap jalan, kami juga mengirim shadow demons untuk mengintai kota-kota tetangga. Namun, jika ada hermit atau druid, orang-orang seperti mereka, kita tidak akan bisa mengawasi mereka. Jika informasi bocor, pastilah dari mereka.”

"Kalau begitu diskusikan masalah ini dengan Albedo, perkuat jaring pengintai sampai mereka yang kau sebutkan juga bisa ditemukan."

"Ya!"

"Lalu, selanjutnya merupakan—" Ainz mengganti dokumen dan terus membalik, "umu ... beberapa kota telah musnah, ya?"


Di dalam halaman-halaman ini terdapat dokumentasi lengkap tentang siapa yang menggunakan strategi untuk menghancurkan suatu kota tertentu. Halaman yang dia lihat saat ini merupakan tentang kota yang dihancurkan oleh Cocytus.


"... Menyerang kota dengan kekuatan kecil, menghancurkan kota dengan sempurna, dan membantai semua penduduknya. Seperti yang dilakukan Cocytus, kalian semua juga telah memikirkan berbagai macam cara untuk menaklukkan kota demi kota dan desa demi desa. Aku benar-benar terkesan.”


Sorcerous Kingdom telah memulai perang brutal di mana kebijakan mereka adalah untuk sepenuhnya menghancurkan setiap kota dan desa dengan cara mereka dan membantai semua penduduknya. Semua yang tertinggal setelah serangan pasukan Sorcerous Kingdom yang tak terduga hanyalah tumpukan puing dan abu tak bernyawa.

Omong-omong, Ainz tiba-tiba menjadi lebih sadar akan tatapan seseorang, yang seharusnya terpaku padanya.

Dia tidak melakukan tindakan yang mengerikan dan kejam ini karena keinginannya, ada tujuan di baliknya. {Semoga dia bisa memahaminya,} Ainz mengatakan pada dirinya sendiri.


"Terima kasih banyak, Ainz-sama." Albedo menundukkan kepalanya, menyuruh Floor Guardian  lainnya untuk mengikutinya. "Untuk memenuhi harapan Ainz-sama mulai hari ini, kami akan mengabdikan diri kami dengan sepenuh hati untuk semakin meningkatkan diri."

“—Ah, umu. Aku dengan sepenuh hati menerima tekad dan kesetiaan setiap Floor Guardian. Selanjutnya adalah— ”


{Itu saja kan?}


Ainz pura-pura batuk dan melanjutkan,


"—Tapi, aku khawatir tidak ada di antara kalian yang gagal."


Sebelum para guardian bisa bereaksi dengan ekspresi bingung mereka, Ainz menambahkan,


“Cocytus, kau merasakan kekalahan selama pertempuran dengan lizardmen. Aku berasumsi jika dirimu mempelajari banyak hal dari pengalaman itu?"

"Seperti. Yang. Ainz. Sama. Harapkan. Saya. Mempelajari. Banyak. Hal. Dari. Pengalaman. Itu."

“Itulah yang aku bicarakan, kau belajar lebih banyak dari kegagalanmu. Tidak, aku berasumsi ada beberapa pelajaran yang hanya bisa dipelajari dari kegagalan."


Seperti halnya di Yggdrasil, seseorang hanya akan berpikir bagaimana mereka dapat meningkat jika mereka menghadapi kegagalan.

Mengatur ulang job, peralatan yang berbeda, dan strategi baru. Jika seseorang selalu menang, mereka akan menjadi puas diri, mati rasa dan ceroboh. Mereka akan kehilangan dorongan untuk memperbaiki diri.


{Meskipun ada pengecualian untuk aturan ini seperti Touch Me-san.}


Dia belum pernah mengalami kekalahan berturut-turut namun dirinya terus berupaya untuk menjadi lebih kuat. Seorang pria yang mencari sinergi job terbaik untuk memaksimalkan kinerjanya sampai di titik terobsesi, dianggap seorang maniak oleh rata-rata para player.

Mengesampingkan pengecualian itu, Ainz yakin ada beberapa hal yang hanya bisa kau pelajari melalui kekalahan.

Itulah sebabnya dia mengharapkan beberapa kegagalan dalam usaha penaklukan kota mereka.

Ini adalah bagian dari rencana di mana kegagalan tidak akan berarti banyak, mereka bisa mencoba sebanyak yang mereka inginkan. Mereka harus bersiap untuk pertempuran di masa depan yang pasti akan terjadi, di mana jika mereka kalah, itu akan berarti kekalahan total. Mereka harus gagal saat ini untuk mendapatkan pengalaman yang cukup untuk menghindari kegagalan ketika saatnya tiba.

Karena mereka telah menghilangkan banyak kehidupan, itu pasti akan mendatangkan manfaat bagi Nazarick. Itu benar, nyawa yang hilang harus digunakan dengan cara yang paling bermanfaat.

Ada satu hal lagi - Ainz memutuskan dirinya harus membuat persiapan untuk ini setelah dia mendengar keinginan mereka berdua.


{Kalau begitu, hal selanjutnya akan menentukan apakah aku menang atau kalah.}


"Mereka yang bijaksana—" Dia tidak bisa memikirkan apa yang harus dikatakan setelah itu, dia lupa naskah yang telah disiapkannya. “Lupakan itu. Mereka yang bodoh, belajar melalui pengalaman mereka. Sekarang aku tidak mengatakan kalian semua bodoh, tetapi aku menunjukkan fakta jika bahkan orang bodoh pun bisa memahami perlunya mengumpulkan pengalaman.”


Ainz kecewa pada dirinya sendiri.

Mengapa dia lupa apa yang ingin dia katakan pada saat genting ini? Kenapa dia ini tidak berguna?



Mini FAQ Hitori-san:
Q : Dah sampe mana?
A : 196/568


Jika ada kalimat/kata/idiom yang salah di terjemah atau kurang enak dibaca, beritahu kami di kolom komentar, dilarang copas dalam bentuk apapun macam-macam kuhajar kau.


PREVIOUS | INDEX | NEXT

Baca doank, komen kaga !!!
Ampas sekali kalian ini



Peringatan: Novel ini versi bajakan !!! Author ngambek, auto delete!! Belilah Novel aslinya jika sudah tersedia!!

73 comments:

  1. wow di tunggu selanjutnya min

    ReplyDelete
  2. Lanjut min semoga sehat selalu dan saya ucapkan terimakasi

    ReplyDelete
  3. Anjir dikit bner kurang puas nih -,-

    ReplyDelete
  4. 1 batang rokok belom kelar, eh dah abis

    ReplyDelete
  5. Ada istilah baru 'hermit' ,itu job seperti apa ya d Yggdrasil? Ada yang tau kah? BTW Terimakasih TL nya.

    ReplyDelete
  6. Wkwkwkwkw
    Okey min.. saya coment dulu..
    :D

    ReplyDelete
  7. Iya disini ada hermit, hermit ini sejenis pertapa (monk). Mungkin aja karena yg nerjemah ke inggris beda, sebutannya juga beda. Pas nigel di sebutnya monk, nah hitori nyebutnya hermit. Ato bisa juga emang ada jobnya sendiri

    ReplyDelete
  8. mungkin yg pengen diucapin Ainz pas terakhir PRIBAHASA "org bijaksana belajar dari sejarah, sedangkan org bodoh belajar dari pengalaman (gagal)"

    ReplyDelete
  9. Menurut w sih bukan gitu, karna Ainz nyebut player Ygdrasil, para maniak game mmorpg tu nggak ada yg namanya berhasil dalam sekali percobaan

    Misal nge RAID World Boss, kalo belum tau mekanismenya pasti gagal terus dan gagal terus, tapi mereka nggak akan nyerah. Dikalimat ini Ainz nganggep para Floor Guardian ini layaknya player, yah ini cuma opini w sih. Karna w belum baca rawnya

    ReplyDelete
  10. Anjir nunggu 3 hari, setelah baca kaget gw isinya dikit banget. Yosh ga sabar nunggu lanjutannya

    ReplyDelete
  11. Aduh pendek amat ya jdi penasaran njir

    ReplyDelete
  12. Duh cepet banget abisnya
    Saran min kedepanya Upload 2 chapter sekaligus

    ReplyDelete
  13. Keep strong minπŸ’ͺ

    ReplyDelete
  14. Yup pembantaian. Si tengkorak berulah lagi

    ReplyDelete
  15. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  16. Thanks min. Jangan lupa jaga kesehatan juga

    ReplyDelete
  17. Is time to war ┌∩┐(◣_◢)┌∩┐

    ReplyDelete
  18. Udah jangan maksa admin buat ngerjain cepet cepet..
    Inget.
    Mereka yang bijaksana -...

    Oke

    ReplyDelete
  19. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

    ReplyDelete
  20. Mereka yang bijaksana belajar dari sejarah dan yang bodoh dari pengalaman CMIIW

    ReplyDelete
  21. Aduh Paduka Ainz-sama kenapa gak dibawa teks nya kan jadi lupa wkwk

    ReplyDelete
  22. ini plotnya nazarik ngebantai penduduk desa dan kota jg ? agak kecewa sih hal spt itu hrsnya bs di hindarin aja, krn menurut gw itu spt pembantaian 1 sisi.. dan lg dr narasi chpater lain spt penduduk kingdom gak tau mengenai berita ini, atau hal tersebut infonya gak bocor.. ya klo semua penduduk di bantai ya wajar gk ada info yg bocor.

    ReplyDelete
  23. Sebastian kemana sih sebenarnya kok kayak gak ada kabarnya gitu

    ReplyDelete
  24. Keren TLnya macam biasanya arigatou,bang translator maafkeun sebelumnya ke pembaca tak tau diri ini....,bang tambahin mode malam demi kebaikan bersama bole...

    ReplyDelete
  25. Keren lo, detil dari orang yg lupa mau ngomong apa itu nilai plus (tentu aja gk selalu,tp dibuat seperti kenyataanya)

    ReplyDelete


EmoticonEmoticon