Di bawah kegelapan malam yang sunyi, sebuah distrik pertokoan terbentang layaknya kota mati.
Hanya cahaya rembulan yang menggantung di langit, memantul samar di antara bangunan-bangunan yang terkunci rapat.
Tak ada satu pun jendela yang memancarkan cahaya.
Lampu-lampu jalanan yang seharusnya menerangi, kini mati tanpa sisa.
Di tengah atmosfer mencekam itu, tampak sesosok siluet perempuan berlari sekuat tenaga.
Di bawah cahaya redup bulan, terlihat jelas paras cantiknya—rambut pirang sepinggang tergerai acak, langkah kakinya telanjang menyentuh jalanan berbatu yang dingin. Nafasnya tersengal, langkahnya tak lagi seimbang.
Gaun putih yang dikenakannya seharusnya tampak anggun, namun kini kotor, kusut, dan robek di beberapa bagian. Noda darah masih basah, mengalir dari luka di punggungnya, perlahan mewarnai kain putih itu menjadi merah.
Wajahnya kacau—ketakutan jelas tergambar.
Air mata mengalir tanpa henti, bibirnya bergetar.
Namun di balik itu semua, ada sesuatu yang lain…
Sinar kemarahan samar terpancar dari matanya.
Ia terus berlari.
Sesekali, perempuan itu menoleh ke belakang, memastikan jarak dengan orang-orang yang mengejarnya.
Di dalam hatinya, pertanyaan-pertanyaan berputar tanpa jawaban.
Kenapa semua ini bisa terjadi?
Kenapa berakhir seperti ini?
Apa salahku…?
Setiap langkah membuat luka di punggungnya semakin perih. Darah terus menetes, seakan tak ingin berhenti. Lukanya tidak terlalu dalam, namun cukup menyiksa—cukup untuk menguras tenaganya perlahan.
Sudah hampir dua puluh menit ia berlari menyusuri gang-gang sempit. Kecepatannya menurun, kakinya mulai gemetar. Otot-ototnya menegang, rasa lelah menjalar tanpa ampun.
Ketika ia akhirnya keluar dari gang menuju jalanan terbuka, matanya menangkap sebuah bangunan di kejauhan.
Harapan kecil menyala.
Dengan sisa tenaga, ia berlari ke arah sana.
Bangunan itu tampak seperti kandang kuda. Salah satu pintunya terbuka. Tanpa berpikir panjang, ia masuk dan menutup pintu rapat-rapat di belakangnya.
Di dalam kandang, cahaya rembulan masuk melalui jendela kecil di atap. Terlihat sebuah tong besar—cukup untuk menampung air minum kuda—serta tumpukan jerami tinggi di bagian belakang.
Namun, tak ada satu pun kuda di sana.
Beberapa detik kemudian, suara langkah kaki mendekat terdengar dari luar.
Disusul suara kasar seorang pria yang berteriak penuh amarah.
“Emory Bradshaw! Jangan berpikir kau bisa lari dariku!”
Nama itu—namanya sendiri—membuat tubuh Emory menegang. Dalam kepanikan, ia meringkuk di balik tumpukan jerami, memeluk lututnya erat-erat, tubuhnya gemetar hebat.
Takut?
Tentu saja.
Ia tak ingin bernasib sama seperti mereka yang telah tertangkap sebelumnya—
adik laki-lakinya, ayahnya, ibunya…
dan orang-orang lain yang ia kenal.
“Boss, jejak darahnya berhenti di sini.”
“Dia pasti masih di sekitar sini. Bagi tim dan cari!”
“Siap, Boss!”
Putus asa menyelimuti Emory. Tubuhnya terasa dingin, kepalanya pusing. Darah di punggungnya telah mengering—tanda bahwa ia mungkin sudah kehilangan terlalu banyak darah.
Apa yang harus kulakukan…?
Bagaimana ini…?
Bagaimana ini?!
Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya.
Suara pintu-pintu didobrak terdengar dari bangunan sekitar.
Dan kemudian—
“BRAAKK—!!”
Pintu kandang didobrak dengan keras.
Langkah kaki perlahan memasuki ruangan.
Semakin dekat.
Semakin dekat.
Langkah itu berhenti.
“Tak perlu sembunyi, Emory,” ucap pria itu dengan nada santai.
“Aku tak akan melukaimu. Dengan penampilan sepertimu, kau bisa ditukar dengan dua kantung penuh koin emas putih. Para bangsawan akan menyukaimu.”
Tawa rendah bergema.
Tubuh Emory menegang. Tangannya mencengkeram lutut semakin erat, matanya terpejam kuat. Malam ini… mungkin akan menjadi akhir dari kehidupannya yang terhormat.
Ia tahu arti dari kata-kata itu.
Budak.
Atau lebih buruk—barang dagangan.
Air mata nyaris jatuh.
Langkah kaki itu kembali bergerak, mendekati tumpukan jerami.
Jangan mendekat…
Jangan…
Tiba-tiba, rasa sakit menjalar di kulit kepalanya.
Rambut panjangnya ditarik kasar ke atas.
Emory terpaksa membuka mata.
Wajah pria itu terpampang jelas di hadapannya.
Wajah seseorang yang lima tahun lalu dibawa ayahnya sendiri ke rumah keluarga Bradshaw.
Seseorang yang diselamatkan dari tragedi di perbatasan wilayah—
tragedi yang menghancurkan dua kereta pedagang.
Tragedi yang disebut sebagai serangan binatang buas tak dikenal.
Seseorang yang ia percaya sepenuh hati.
Pengkhianat itu menatapnya dingin.
Tirai perburuan telah diturunkan.
Dua sosok keluar dari kandang malam itu.
Salah satunya menyeret yang lain dengan kasar.
Dan sejak malam itu—
Keluarga bangsawan Bradshaw dinyatakan musnah.
Pembaharuan novel ringan mimin nih, dari 2019 terbengkalai waktunya dilanjut 2026 !!! Keep fight!!!