January 17, 2026

The Eternal One - Chapter 1

The Eternal One - Chapter 1


Author : Sai Kuze


Chapter 1 - Abu yang Masih Bernapas

Emily Bradshaw terbangun tanpa tahu berapa lama ia telah kehilangan kesadaran.


Yang pertama ia rasakan bukan rasa sakit—melainkan kehampaan. Seolah tubuhnya masih ada, tetapi jiwanya tertinggal di suatu tempat yang tidak ingin ia ingat.


Langit-langit kayu retak membentang di atasnya. Bau lembap, besi karat, dan keringat manusia bercampur menjadi satu. Nafasnya terasa berat, setiap tarikan seperti menelan pecahan kaca.


Ia mencoba menggerakkan jarinya. Bisa.


Kakinya. Masih ada.


Emily menoleh perlahan.


Gaun bangsawannya telah lenyap. Yang tersisa hanyalah kain kasar yang dilemparkan tanpa peduli, menempel di kulitnya yang penuh lebam samar. Rambut pirangnya terurai kusut, sebagian dipotong sembarangan.


Ia memejamkan mata.


Ingatan itu datang tanpa diminta.


Pintu yang ditutup.
Suara tawa.
Tangan-tangan yang tidak meminta izin.


Emily berhenti bernapas sejenak—bukan karena terkejut, tetapi karena otaknya menolak melanjutkan.


Ia tidak menangis.


Air mata sudah habis lebih dulu, entah di gang sempit, kandang kuda, atau malam ketika nama Bradshaw terakhir kali disebut dengan hormat.


Sekarang, nama itu tidak berarti apa-apa.


“Akhirnya bangun.”


Suara seorang pria terdengar dari sudut ruangan. Emily membuka mata. Seorang penjaga duduk di atas peti kayu, mengunyah sesuatu sambil menatapnya seolah ia hanya barang inventaris.


“Yang ini masih hidup,” lanjutnya datar. “Berarti masih ada harga.”


Harga.


Kata itu jatuh seperti palu.


Emily mencoba bangkit, tetapi tubuhnya berkhianat. Otot-ototnya menolak, rasa nyeri menjalar sampai ke tulang. Ia terjatuh kembali ke lantai kayu dengan suara tumpul.


Penjaga itu tertawa pendek. Bukan tawa gembira—lebih seperti kebiasaan.


“Tenang. Kau akan dijual besok pagi. Kapal dari selatan singgah sebelum matahari tinggi.”


Dijual.


Emily menatap lantai di depannya. Ada noda gelap yang belum sempat dibersihkan. Ia tahu noda apa itu, dan ia tahu itu bukan miliknya sendiri.


“Apa… aku akan mati?”
Suaranya keluar lebih pelan dari yang ia kira.


Penjaga itu mengangkat bahu. “Tergantung pembelimu.”


Jawaban jujur. Dunia ini memang tidak berbohong—ia hanya tidak peduli.


Ketika pria itu pergi, pintu kembali ditutup. Kunci diputar. Suaranya bergema seperti vonis.


Emily sendirian.


Ia menarik lututnya ke dada. Tubuhnya gemetar bukan karena dingin, tetapi karena kesadaran penuh mulai kembali.


Ia bukan lagi putri Earl.


Bukan lagi warga Oprarsa yang dilindungi hukum.


Bukan lagi manusia yang punya pilihan.


Ia hanya sesuatu yang akan dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain.


“Begini akhirnya,” bisiknya.


Tak ada doa yang terucap.


Tak ada harapan yang diminta.


Namun, di kedalaman yang bahkan ia sendiri tak sadari, sesuatu bergerak pelan—


bukan cahaya,


bukan mukjizat,


melainkan keputusan yang dingin.


Emily mengingat satu hal terakhir yang ia ucapkan sebelum segalanya runtuh.


Sebuah sumpah.


Bukan kepada dewa.


Bukan kepada manusia.


Hanya kepada dirinya sendiri.


Jika aku keluar hidup-hidup dari neraka ini…
aku tidak akan pernah lagi menjadi seseorang yang bisa diinjak.



Dadanya terasa sesak. Bukan karena emosi—melainkan seolah ada sesuatu yang menekan dari dalam, menunggu saatnya ditagih.


Di luar, suara ombak pelabuhan terdengar samar. Kapal-kapal bersiap berlayar, membawa barang, senjata, dan manusia seperti dirinya.


Emily menutup mata.


Ia tidak tahu bagaimana caranya keluar.
Ia tidak tahu siapa yang akan mengkhianatinya berikutnya.


Namun untuk pertama kalinya sejak tragedi itu—


ia tahu satu hal dengan pasti.


Ia akan hidup.


Dan dunia suatu hari akan membayar harga dari sumpah yang diabaikan.





EmoticonEmoticon