Author : Sai Kuze
Pelabuhan belum sepenuhnya terjaga ketika fajar merayap di ufuk timur.
Kabut tipis menggantung di atas dermaga, menyamarkan kapal-kapal yang bersandar seperti bayangan raksasa. Bau asin laut bercampur dengan teriakan buruh, bunyi rantai, dan kayu basah yang dipijak tergesa.
Emily berjalan di antara dua penjaga.
Tangannya diikat longgar—bukan karena belas kasihan, melainkan keyakinan bahwa ia tak lagi punya tenaga untuk melawan. Tubuhnya masih lemah, kepalanya ringan, dan setiap langkah di atas papan dermaga membuat pandangannya sedikit berputar.
Ia tidak menatap laut.
Ia tidak menatap kapal.
Ia menatap orang-orang.
Pedagang berjubah lusuh dengan cincin emas di jari. Pelaut yang menimbang manusia seperti muatan. Wajah-wajah yang terlalu tenang untuk tempat seperti ini.
Inilah dunia setelah kehormatan mati.
“Yang ini tidak banyak bicara,” kata salah satu penjaga sambil mendorong bahu Emily. “Masih layak.”
Kata itu lagi.
Seorang pria mendekat. Usianya sekitar empat puluh, wajah rapi, senyum terlatih—jenis orang yang jarang mengotori tangannya sendiri.
“Nama?” tanyanya singkat.
Emily ragu.
Nama Bradshaw adalah hukuman.
Namun diam terlalu lama bisa berarti pukulan.
“…Emily.”
“Asal?”
“Pesisir.”
Bohong yang aman.
Pria itu meneliti wajahnya tanpa emosi. “Kami berangkat satu jam lagi. Kalau kau bisa berjalan sendiri sampai kapal, aku pastikan kau tidak disentuh sebelum tiba.”
Emily menatapnya. “Janji?”
Pria itu tersenyum kecil. “Janji.”
Satu kata. Ringan. Mudah.
Emily mengangguk. Ia tidak percaya—tetapi ia mencatatnya.
Keributan kecil pecah di sisi lain dermaga. Peti jatuh, teriakan terdengar. Salah satu penjaga menoleh.
Itu cukup.
Emily bergerak bukan karena berani, melainkan karena putus asa. Ia menghantam tulang kering penjaga di sampingnya dengan sisa tenaga, lalu berlari—terhuyung, hampir jatuh, namun terus bergerak.
“Kejar dia!”
Kabut terbelah oleh langkah kaki.
Emily berbelok ke lorong sempit di antara gudang. Napasnya tersengal, paru-parunya terbakar. Dunia menyempit menjadi detak jantung dan bunyi sepatu di belakangnya.
Seseorang menarik lengannya.
Emily tersentak, hampir berteriak—
namun tangan itu menutup mulutnya.
“Diam,” bisik seorang pemuda berwajah kotor, matanya gelisah. “Aku bisa mengeluarkanmu dari sini.”
Emily menatapnya, takut dan curiga. “Kenapa?”
Pemuda itu ragu sesaat. “Karena aku pernah seperti kamu. Aku tahu rasanya.”
Tidak ada waktu untuk menimbang kebenaran. Emily mengangguk.
Mereka menyelinap menembus gudang kosong, keluar lewat pintu belakang menuju kanal sempit. Bau air kotor menyengat, tetapi suara pelabuhan mulai menjauh.
“Ada perahu kecil,” kata pemuda itu terengah. “Dari sana kau bebas.”
Bebas.
Kata itu hampir terasa nyata.
Namun langkah pemuda itu melambat.
Emily melihatnya menoleh ke belakang—mendengar bunyi koin beradu dan suara berat dari balik bayangan.
“Bagus,” kata seorang pria. “Kau membawa barangnya.”
Pemuda itu tidak menatap Emily. “Aku minta maaf,” katanya pelan. “Aku butuh uang.”
Kalimat itu menghantam lebih keras dari pukulan.
Janji itu—
dilanggar.
Emily mundur selangkah. Keheningan turun, anehnya terlalu sunyi.
Pemuda itu terhuyung. Ia memegangi kepalanya, jatuh berlutut. Napasnya tersendat, seolah dadanya diremas dari dalam.
“Apa… apa yang terjadi?” ia tercekik.
Emily gemetar. Ia tidak menyentuhnya. Ia tidak mengucapkan apa pun.
Namun di dadanya, ada tarikan dingin—
seperti simpul yang menarik, lalu mengencang.
Pemuda itu menjerit. Suaranya patah, tubuhnya kejang, lalu terkulai diam.
Keheningan.
Pria di bayangan itu mundur setapak. “Apa yang kau lakukan?”
Emily menatap tangannya sendiri. Tidak ada darah. Tidak ada cahaya. Tidak ada mantra.
Namun janji itu telah ditagih.
Untuk pertama kalinya sejak malam kehancuran, Emily tidak merasa kosong. Ia merasa berat—seolah dunia baru saja mengakui sesuatu.
“Dia bersumpah,” ucap Emily lirih. “Dan dia berbohong.”
Tidak ada jawaban. Hanya air kanal yang mengalir pelan, membawa pergi tubuh pengkhianat—dan membawa Emily menjauh dari takdir sebagai budak.
Di dalam dirinya, sebuah pemahaman dingin terbentuk:
Janji adalah mata uang dunia ini.
Dan ia baru saja belajar…
bagaimana cara menagihnya.

EmoticonEmoticon