January 11, 2019

Tsuki ga Michibiku Isekai Douchuu Bahasa Indonesia Chapter 55 - Refleksi

Tsuki ga Michibiku Isekai Douchuu Bahasa Indonesia Chapter 55 - Refleksi


Chapter 55 - Refleksi


Seperti yang bisa diduga, Tomoe telah berencana untuk mengundang ras ogre hutan ke Asora.

Tetapi aku tidak bisa menyetujuinya.

Saat ini, pria itu adalah satu-satunya yang memiliki kekuatan itu, tetapi setelah menerimanya kedalam Asora dan dilatih Tomoe dan mini Tomoe, aku merasa mereka akan saling membangunkan satu sama lain.

Jika kau menyebutku kucing yang ketakutan, maka ya, itulah diriku. Tidak ada alasan lain lagi.

Para ogre hutan itu sama dengan yang sebelumnya, mereka semua sepakat. Mereka sepertinya tidak memiliki masalah dengan mendatangi Asora kami (atau lebih tepatnya mereka menganggapnya sebagai tanah suci Tomoe). Tidak ada kerugian bagi kedua belah pihak, itu merupkanan kesimpulan yang logis. Bahkan jika mereka menganggapku bocah bertopeng yang mencurigakan, Tomoe pun merupakan naga superior yang mereka sembah. Dan naga itu menyuruh mereka untuk datang.

Jangan bercanda.

Aku takut pada Tree Punsihment. Sangat takut.

Penyakit kutukan yang kulihat di tempat Rembrandt-san juga. Saat itu aku merasa takut. Tetapi meskipun begitu, aku memiliki banyak emosi lain seperti marah, jadi aku tidak setakut seperti yang sekarang ini.

Dalam Tree Punsihment ini, satu-satunya yang kurasakan adalah ketakutan. Mungkin itu karena aku tidak bisa menyembuhkannya, atau mungkin karena aku tidak memiliki perasaan lain karena aku tidak mengenalnya, sebagian mungkin karena aku melihat cara mereka menggunakannya.

Aku pikir itu tidak bisa dimaafkan. Hanya saja itu memberi perasaan buruk seperti membekukan tulang belakangku. Seperti dituangkan air dingin di punggungku. Perasaan yang tidak bisa aku jelaskan memengaruhi tubuhku.

Saat aku datang ke sini, aku serius memikirkan 'hal bodoh' seperti menerima keinginanku. Sekarang perasaan semacam itu benar-benar menghilang. Keluar langsung dari tenggorokanku. Yah, aku mungkin akan bermasalah lagi dengan itu setelah kami kembali.

Aku tidak bisa sepenuhnya menerima ogre hutan dan berkata: "Sekarang, silakan".

Itu sebabnya aku membicarakan tentang daerah yang mereka kelola dan penghalang yang Tomoe buat dan mengarahkan percakapan ke arah yang berbeda. Tidak perlu keterampilan percakapan khusus. Karena kamilah yang memegang prioritas.

Hak untuk memutuskan secara fundamental ada di pihak kami. 'Hakim yang hendak mengetukan palu' menggambarkan situasi ini dengan sempurna.

Tomoe ingin sekali mengundang mereka sebagai penghuni karena dia melihat kecerdikan dan kekuatan tempur mereka, dan juga penampilan mereka yang mirip dengan para hyuman, tetapi entah bagaimana aku bisa membujuknya agar tidak melakukannya. Sepertinya penolakanku sebenarnya tidak terduga.

Mio juga, bahkan ketika dia secara pribadi tidak menyukai mereka, dia memiliki pandangan yang bagus tentang pengetahuan berlimpah para ogre hutan pada tanaman, sesuatu yang agak berbeda dari kemampuan berkomunikasi dengan tanaman. Mio mendukung dilakukannya migrasi. Sepertinya Mio juga sedikit terkejut dengan caraku yang berputar-putar menolak migrasi mereka.

Tentu saja, aku tidak ingin menyangkal semuanya. Jika kami terus seperti ini, pertarungan antara Tsige dan orang-orang ini pasti akan terjadi. Tidak diragukan lagi pasti memakan banyak korban.

Aku jelas mengetahui penolakanku adalah karena ketakutanku, itu sebabnya aku ingin mencapai suatu kesepakatan dan mendapatkan kesimpulan yang dapat diterima.

Pertama-tama, Tomoe akan membuat penghalang baru. Itu sudah pasti. Lagipula aku tidak ingin meninggalkan mereka dalam kondisi berbahaya ini.

Aku juga akan menyertakan daerah di mana Ambrosia tumbuh liar. Tidak peduli apa yang terjadi sejak saat ini, selama seseorang tidak diizinkan masuk, impian untuk menjadi kaya dengan cepat di gurun hanya akan meningkat satu. Tentu saja, mimpi indah itu tidak mempengaruhi kami.

Topik berikutnya, sepertinya para ogre hutan tidak mau kehilangan hubungannya dengan kami. Aku juga menyukai cara mereka berinteraksi dengan hutan yang mirip seperti ahli hutan. Hal yang aku tidak sukai adalah Tree Punsihment itu. Tapi itu sepertinya merupakan kekuatan yang berasal dari leluhur mereka, dan itu merupakan kebanggaan bagi mereka. Sungguh rumit.

Seperti yang ditekankan Tomoe, para ogre hutan memiliki kemampuan bertarung yang tinggi dan penampilan mereka cukup mirip dengan para hyuman, jadi aku pikir mereka pasti berguna dalam memanajemen perusahaan. Bahkan jika aku mencoba menemukan penawar untuk Tree Punsihment, lebih bagusnya kami memiliki hubungan yang baik saja dengan mereka.

Sama seperti Mio yang menyetujuinya, jika mereka bermigrasi ke Asora, aku pikir mereka pasti akan membawa manfaat besar bagi para penduduk. Karena Asora saat ini tidak memiliki ahli hutan.

Sepertinya tidak ada pilihan untuk tidak menerimanya.

Itu sebabnya aku ...


.....

...


"... Begitu, jadi begitu ya."


Setelah tahap pertama pertemuan selesai, kami berpamitan pada para ogre hutan untuk saat ini dan kembali ke Asora.

Pada akhirnya, para ogre hutan akan melakukan perdagangan dengan kami secara terpisah dalam bentuk kerja sama dengan Asora dan perusahaan, tanpa memindahkan seluruh desa.

Dengan ini, mereka sekarang dapat dengan aman menjual dan membeli. Lebih lagi, pekerjaan mereka akan meningkat. Lebih konkretnya, kami akan mengajari mereka bagaimana cara melakukan bisnis terlebih dahulu sebelum memberi mereka pekerjaan terkait negosiasi. Ada juga ... pengumpulan informasi.

Ya, mereka lebih dan lebih seperti para shinobi.

Yah, aku sebenarnya tidak ingin memikirkan manfaatnya dan hanya membuat jarak dengan mereka. Itu sebabnya aku merasa terganggu dengan semangat Tomoe yang menggebu-gebu.

Ada yang mengejutkanku, Tomoe-san melihat mereka sebagai kelompok ' Iga atau Koga'. Dia membuat argumen yang aneh seperti manfaat bagi perusahaan atau membuat kehidupan mereka menjadi lebih stabil, jadi aku terlihat seperti orang idiot karena secara serius mencoba menerimanya. (TL Note: Clan Shinobi Iga dan Koga)

Meskipun kami berada di tengah-tengah pertemuan, aku seharusnya bisa mengkonfirmasi keinginan kami kapan saja dengan transmisi pikiran.

Aku sangat terkejut dengan kurangnya fleksibilitasku.

Pembicaraan dapat dilanjutkan dan berakhir dengan tenang.

Setelah itu, kami dapat berpindah ke Asora tanpa menyembunyikannya, dan memutuskan untuk melakukan pemanduan dan tur untuk para ogre hutan. Setelah itu kami mengurusi rekrutmen orang-orang yang ingin bermigrasi, omong-omong, migrasi ini memiliki batas jumlah. Jika semua orang ingin bermigrasi dan akhirnya memindahkan seluruh desa, itu seperti membatalkan semua yang aku katakan. Aku bisa mencegah hal itu terjadi.

Aku merasa Tomoe mengincar itu, tapi begitu aku tahu cara berpikirnya, itu mudah sekali.


"Tomoe, para shogun menempatkan shinobi terbaik mereka di tempat yang dekat dengan mereka." (Makoto)


Dengan satu kalimat aku bisa meng-KO dirinya.

Ketika mereka sedang melakukan tur Asora, penduduk lainnya sedang menjelaskan detail wilayah Asora. Tomoe-mini memainkan peran besar. Ema-san juga membantu dengan baik. Sejumlah ogre hutan dapat berbicara dalam bahasa yang sama, sehingga masalah bahasa sepertinya bisa diselesaikan dengan sendirinya.

... Pada tingkat ini, bahasa umum akan menjadi bahasa utama di sini. Aku harus segera mempelajari kalimat-kalimat tegas. Hanya itu yang bisa kulakukan kan? Aku tidak ingin menundukkan kepalaku pada serangga itu, jadi, tidak perlu lagi melakukan negosiasi merepotkan itu.

Jika bahasa Jepang memungkinkan, itu akan sangat mudah bagiku, tetapi jika aku memikirkan tentang penyimpanan data dan informasi penting, lebih baik bagi sebagian orang untuk mengerti. Tidak ada pilihan lain.

Aku harus menggunakan komunikasi pseudo-writingku di Kota Akademi, dan aku akan selalu membutuhkan salah satu pengikutku untuk menemaniku. Pikiranku sama sekali tidak bisa tentram. Aku ingin punya waktu sendirian di mana aku bisa berinteraksi dengan orang-orang seusiaku.

Lebih tepatnya, hanya memikirkan tentang memiliki Mio dan Tomoe di sampingku sepanjang waktu, aku merasa pada suatu saat aku akan berakhir seperti boneka ventriloquism. Level 4 digit dan level 1. Tidak perlu memikirkan siapa yang akan dianggap sebagai bonekanya.
(TL Note: boneka tangan yang bicara menggunakan suara perut si pengguna mirip 'Susan-Susan-Susan besok gede mau jadi apa')


“Tapi Waka, keterampilan unik status abnormal adalah sesuatu yang tidak perlu dikhawatirkan Waka. Mengapa anda begitu takut akan hal itu? Aku tidak mengerti.” (Tomoe)


Begitulah Tomoe. Padahal tadi dia ngomong 'Aku mengerti'.

Di tempat ini, saat ini hanya ada 4 orang. Rumahku di Asora. Di kamarku sendiri. Yah, sepertinya masih bersifat sementara. Ini cukup besar lho? Kayaknya nggak perlu lagi buat yang baru kan?

Aku menjelaskan alasan perilakuku di pertemuan sekali lagi.

Aku, Tomoe, Mio, dan orang lain yang tengah beristirahat.


“Bahkan ketika aku tidak mengerti. Saat mereka menjelaskan kepadaku bahwa semua yang ada di hutan itu sebenarnya adalah demihuman dan hyuman, aku spontan merinding.” (Makoto)

"Fumu ..." (Tomoe)

"Saya benar-benar minta maaf, saya tidak memperhatikannya sama sekali." (Mio)


Aku benar-benar tidak tahu mengapa. Aku mungkin secara psikologis tidak senang dengan faktor dalam praktik itu. Tomoe mengangguk sambil berwajah serius, dan Mio meminta maaf karena dia tidak memperhatikan suasana hatiku. Bagaimanapun juga, Mio tidak bersalah.


"Maaf." (Makoto)

"Waka, anda tidak perlu meminta maaf." (Tomoe)

"Itu benar-desu!" (Mio)

“Kalau begitu, mari kita tahan rencana membangkitkan kekuatan para ogre hutan. Mengenai pria itu, mari kita perintahkan dia untuk bekerja sama dan menahan diri.” (Tomoe)


Aku tidak tahu apakah kami bisa menahannya dengan kata-kata sederhana, tetapi sepertinya Tomoe memiliki semacam rencana. Mari serahkan itu padanya. Tidak peduli seberapa keras aku mencoba, aku tidak dapat menangani kemampuan itu.

Ah, bagaimanapun juga, mungkin karena masalahnya sudah beres, atau karena aku telah mengatakan semuanya, aku merasa jauh lebih baik.

Untuk sekarang ... Ayo kembali ke Tsige.

A-Aku merasa seperti aku melupakan sesuatu ...

Apa itu?

N?

Diserang oleh ogre hutan AB di hutan Ambrosia (nama sementara), ketika aku menggendong Mio dan entah bagaimana bisa mengusir mereka, dan setelah tiba di desa dan bertemu Shishou mesum mereka, perjamuan selesai, Lich keluar dari mulutnya... Itu benar, salah satu ogre hutan mati.

Bukan itu!

Lich! Benar, Lich!

Tidak tunggu, ada yang terasa salah. Bukannya aku salah, tapi masih ada sesuatu yang lebih penting.

Sebelum itu terjadi.

Uhm ...

!!

Aku ingat kejadian yang terjadi ketika para ogre hutan menyerang kami dan aku menggendong Mio. Aku hampir melupakannya.

Tidak bagus, coba ingat-ingat.

Sekarang aku memikirkannya, sejak aku meninggalkan Tsige, aku sudah banyak bermain-main.

Tentang trio itu, dan juga waktu dengan jabat tangan Shishou itu, mengenai Lich aku cukup tertarik padanya dan aku meninggalkannya begitu saja, lalu semuanya berakhir seperti itu.

Ogre hutan itu pun juga. Mungkin aku bisa menyelamatkannya.

Ketika aku menurunkan penjagaanku, pikiranku segera terhalang oleh sesuatu dan aku tidak bisa tenang.

Dalam kekuatiran tanpa akhir, aku merasakan hasrat seksualku. Dan dalam kondisi ini, lho? Pada saat di gurun aku tidak merasa seperti ini.

Tidak peduli betapa mengejutkannya itu, hanya karena ada banyak perempuan cantik, hanya karena beberapa gadis mendekatiku, aku berakhir dalam keadaan yang menyedihkan ini.
(TL Note: Tinggal colay ae repot amat lu cok)

Bahkan jika aku bisa melakukan hal yang lebih karena kekuatan gilaku, itu tidak berarti aku bisa terus seperti ini.

Ingat perasaan dituangkan air dingin di punggungku ketika aku menyentuh Tree Punsihment itu.

Ya ampun, tahan. Bagaimanapun, aku harus mengakhiri semua ini!

Aku tidak tahu berapa banyak aku bisa pulih. Aku berada di dunia di mana aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku tidak bisa melupakan itu.


"Apa yang terjadi dengan trio manusia itu?" (Makoto)

"Oya, bukankah dia yang pertama?" (Tomoe)


Yang keempat. Tomoe menunjuk ke Lich-san dengan dagunya. Mungkin itu karena pakaian yang terlihat seperti jubah priest (meskipun meskipun aku mengatakan 'priest' jubahnya berwarna hitam dan memiliki desain bordir emas yang rumit dan tidak menyenangkan) terbuat dari kekuatan sihir, kerangka itu tidak cuma sebuah tulang belulang. Lubang matanya terlihat seperti memijarkan lampu merah, jadi aku tahu dia sudah bangun.

Setelah aku menyuruh Tomoe menyelesaikannya (membuatnya terlihat seperti itu), aku meminta dia kembali ke Asora dulu dan mengirimnya ke kamarku. Tentu saja, aku membatasi pergerakannya di dalam bangunan ini dan meninggalkannya dalam keadaan terbatas.

Sepertinya dia tidak melakukan apa-apa saat kami berbicara dan juga tidak berpartisipasi, dia tetap diam. Dia agak menakutkan, tetapi karakteristik istimewanya bukan sesuatu yang kurasakan berbahaya. Membiarkannya bebas untuk saat ini seharusnya tidak menjadi masalah.


“Tidak, sekarang setelah aku memikirkannya, aku sama sekali belum bertanya apa yang terjadi pada mereka. Tomoe?" (Makoto)

“Tentu saja, mereka menerima undangan kursus dari Kota Mirage. Mereka bertiga bingung pada awalnya, tetapi pagi ini mereka dengan patuh sarapan, dan sekarang para Orc dan dwarf seharusnya menemani mereka.” (Tomoe)

"... Eh?" (Makoto)

"Apakah ada yang salah?" (Tomoe)

"Mereka, di sini, sekarang?" (Makoto)

"Ya" (Tomoe)


Bukankah itu buruk?

Kau tahu kan, aku mengisolasi mereka ketika kami bertarung melawan ogre hutan AB?

Bukankah ini buruk jika mereka akhirnya menyerang ogre hutan yang sekarang berkeliling kota?


"Dasar kau ini, apa yang akan terjadi jika mereka akhirnya menemui ogre hutan ?!" (Makoto)

"Jangan khawatir. Untuk memastikan itu tidak terjadi, aku telah membagi daerah berkeliling mereka. Aku menyuruh para hyuman itu menginap di bengkel eldwarf dan meminta mereka pulang besok. Hutan itu sudah dalam keadaan di mana kau tidak bisa melihatnya atau memasukinya, jadi mari kita lemparkan mereka di pintu masuknya.” (Tomoe)


Dia mengatakan, karena mereka adalah petualang, mereka pasti sudah puas dengan diberi beberapa senjata yang bagus.

Tomoe melanjutkan: "Para ogre hutan sepertinya ingin melindungi Ambrosia sebagai prioritas mereka, jadi tampaknya mereka lebih mementingkannya daripada penghalang desa."

Bengkel dwarf tentu saja merupakan tempat yang terisolasi. Jika mereka ingin pindah ke daerah lain, seseorang pasti akan melihatnya. Dalam hal ini, tidak ada kemungkinan para ogre hutan untuk tiba-tiba menemui mereka.

Memberi mereka senjata ya. Aku merasa seperti itu karena trio idiot itu sehingga kami dihadapkan dengan begitu banyak masalah.

Salah satu gadis di sana sepertinya adalah orang yang membuat Tomoe dan Mio nyaris membuatku marah. Tapi gaya rambutnya berbeda ... jadi mungkin bukan ya?

Humu.

Ada beberapa hal yang membuatku merasa tidak puas, tapi ...

Baiklah. Seperti kata Tomoe, jika mereka diberikan senjata yang relatif bagus, bahkan jika mereka dilemparkan ke pintu masuk gurun, mereka pasti memiliki kekuatan serang yang cukup. Aku akan berdoa agar mereka mulai sekarang berjalan di jalan yang benar. Karena jika mereka tidak melakukan itu, lain kali mereka melakukan hal gila, mereka hanya akan mati. Selain itu, hambatan yang harus dilalui seseorang untuk kembali ke Tsige adalah, seperti namanya, jalan sempit dan sulit. Itu membentang ke atas dan ada banyak orang yang membidikmu. Jika kau kehilangan stamina di jalan, maka sejauh itulah kemampuanmu.

Bagaimanapun juga, senjata eldwarf sangat bagus. Ini cukup mahal sebagai hadiah perpisahan.

Senjata, senjata ya.

Aku merasa seperti aku telah mendengar kata senjata berkualitas di suatu tempat sebelumnya ...

Perkataan itu dari ... Lime! Limelatte!

Aku mengatakan kepadanya bahwa aku akan memberinya senjata. Pria yang mencapai level itu dengan usahanya sendiri dan memiliki kemampuan yang cukup baik. Meskipun ia melewati waktu yang mengerikan karena Tomoe dan diperas oleh Mio.

Sekarang aku ingat, sekarang aku ingat.

Peralatanku masih dalam proses pembuatan, maka aku harus menunjukkan wajahku di tempat eldwarf-san sebelum pergi ke Tsige.

Umu, aku berencana untuk menenangkan diriku setelah kehilangan ketegangan tapi ...

Masih banyak yang harus aku lakukan !!


"Lalu, aku akan menyerahkan trio itu padamu. Lagipula aku tidak bisa bertemu dengan mereka.” (Makoto)

"Aku mengerti" (Tomoe)

“Baiklah, kita sudah selesai sekarang. Setelah ini, hanya ada sedikit pembicaraan dengan Lich.” (Makoto)

"Sepertinya itu akan menarik dan aku punya sesuatu yang ingin aku uji, jadi aku akan menghadirinya juga." (Tomoe)

“Ada juga soal si mesum itu. Tinggal berdua di dalam ruang itu tidak boleh-desu!” (Mio)


Uh? Sebenarnya dia tidak akan memabahayakanku, jadi sebaiknya mereka berdua melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan Asora.

Mio, untuk tulang ini yang akan membahayakan kesucianku, sepertinya itu tidak mungkin.

Yah, kau bisa melakukan apa pun yang kau inginkan.

Sekarang, mari kita dengarkan keadaannya.


[ Chapter 55 Selesai ]





 Jangan lupa Like Fanspage kami & Share terjemahan ini ya !!!  




EmoticonEmoticon