March 18, 2020

OVERLORD Bahasa Indonesia Volume 14 Chapter 1 - Part 3

Translator: Sai Kuze

Chapter 1 - Langkah Yang Tak Terduga


OVERLORD Bahasa Indonesia Volume 14 Chapter 1 - Part 3


     Philip akhirnya mencapai tujuannya, sepetak jalan di wilayah Baron Delvin. Dia telah memimpin persiapan pasukannya, Dimulai dari kemarin dan berkemah setiap malam, menuju lokasi penyerangan. Menurut informannya, karavan Sorcerous Kingdom akan melewati tempat ini.

Philip sedang menunggang kuda, memandangi barisan prajuritnya.



Mereka merupakan tentara, atau lebih tepatnya penduduk desa, di bawah komandonya.

Totalnya lima puluh orang.

Dia telah mengirim instruksi ke seluruh wilayahnya, tetapi tidak banyak orang yang menanggapi panggilan itu. Kebanyakan dari mereka menanggapinya dengan alasan bahwa mereka telah memenuhinya ketika instruksi perang wajib sebelumnya.

Karena hal itu, Philip menjadi sangat kesal.

Rencana itu dirancang untuk kemakmuran masa depan tanah mereka, untuk kebaikan semua orang yang tinggal di sana. Ada juga banyak potensi rampasan perang, yang telah dipikirkan Philip dan diusulkan agar instruksi perang itu dibagikan kepada semua orang. Tetap saja, tidak ada yang datang untuk membantu.

Mereka terlalu bodoh.

Sekelompok orang bodoh yang tidak tahu keuntungan yang akan mereka dapatkan. Tidak, ini merupakan alasan yang tepat mengapa mereka harus dipimpin dan dikuasai oleh seorang jenius seperti dirinya.

Meskipun berusaha keras untuk menenangkan dirinya sendiri sebaliknya, kemarahannya terhadap orang-orang yang tidak mengerti dirinya berkobar. Dia telah memikirkan rencana untuk memaksa mereka wajib militer, tetapi itu pasti akan membuat marah orang tuanya, yang telah berjalan melalui pintu kematian.

Pada akhirnya, dia membayar mereka secara tunai dengan uang yang dia pinjam dari Hilma.

Setelah semua kerja kerasnya, ia berhasil mengumpulkan lima puluh orang, yang diantaranya seperti pria tua yang kehilangan masa kejayaannya, pria muda yang tubuhnya lemah dan sakit-sakitan, atau orang-orang yang suka berkelahi dan rata-rata mereka tak punya pendirian.

Terus terang, mereka merupakan gangguan di desa mereka dan tidak satupun dari mereka yang memiliki nilai jual, Meski begitu, Philip merasakan kegembiraan yang tak terlukiskan berdiri dihadapan prajuritnya.

Dia memiliki firasat kisah kepahlawanannya yang tersebar luas akan segera dimulai. Tidak, itu sudah dimulai.

Karena wilayahnya pasti akan meluas, statusnya juga akan meningkat. Dia akan segera merasakan kemewahan dunia.

Dialah yang akan memberikan serangan pertama kepada Sorcerous Kingdom, suatu prestasi yang tidak bisa dilakukan orang lain. Sebuah taktik untuk mengalahkan Sorcerous Kingdom, memungkinkan Philip untuk mendapatkan banyak pujian dari keluarga kerajaan dan gelar yang sesuai dengan pencapaian ini. Mungkin dia bahkan bisa menikahi putri cantik itu.


"-Jadi, Tuanku, bisakah kita benar-benar menyerang mereka?"


Philip, yang telah termenung di dalam mimpinya, diseret kembali ke dunia nyata seolah-olah seember air dingin baru saja diguyurkan keatas kepalanya.

Dia kembali sadar dan melihat prajurit yang telah mengajukan pertanyaan.

Prajurit itu merupakan manusia biasa, sekitar 30 tahunan. Dia mengenakan pakaian acak-acakan dan, untuk beberapa alasan, memegang cangkul kayu. Bahkan sebuah pemukul kayu akan lebih baik daripada cangkul, jika tidak, bahkan beberapa tongkat yang ada di sini pastilah lebih bagus ketimbang cangkulnya. Philip ingin mengatakan sesuatu tentang itu, tetapi cangkul itu mungkin merupakan hasil dari perintahnya agar mereka membawa senjata mereka sendiri.

Terus terang, melihat beberapa penduduk desa bahkan tanpa sebuah tongkat membuat Philip sedikit ragu. Terlepas dari mereka, bagaimanapun, pasukannya secara keseluruhan terlihat seperti para bandit miskin. Mungkin itu bisa saja membodohi lawan mereka sampai-sampai mereka mempercayainya.

Para prajurit di sekitar mereka rupanya setuju dengan keraguan pria itu, karena semua orang yang sekilas dia pandang memalingkan kepala ke arahnya seolah-olah mengatakan "ya, aku memikirkan hal yang sama".


"Ini akan baik-baik saja, ini adalah langkah untuk menyelamatkan Kingdom."

“Anu, tuan, kita tidak benar-benar berurusan dengan Kingdom kan? itu terlalu rumit bagi kami. Kami tidak akan diikat dan 'kepala kami dipenggal' kan?” Pria lain bertanya, dan tak lama kemudian yang lain mulai bergema bersama "kan?kan?" mereka.


Philip sangat terkejut dengan pertanyaan-pertanyaan yang menunjukkan kurangnya pemahaman tentang keadilan.


{-Ini tepatnya karena begitu banyak orang seperti mereka ada, seseorang yang berbakat sepertiku haruslah memimpin mereka. Tidak ada yang menaati rencanaku pada manajemen pertanian karena orang-orang ini hanya bisa memikirkan permukaannya saja ...}


"Aku bilang tidak akan ada masalah, apa kalian semua tuli?"

"... Tidak, tidak, kami tidak tuli."


Para prajurit tidak yakin, dendam mereka terlihat.

Mungkin dia seharusnya mengeksekusi seseorang sebagai peringatan kepada yang lain, tapi itu akan membuatnya tampak seperti dia tidak bisa memimpin sama sekali. Dia akan kehilangan martabatnya jika dia tidak bisa membuat mereka bekerja meskipun tahu ada risiko yang akan diterima.

Ketika Philip panik dan tidak tahu harus berbuat apa, dia mendengar suara ketukan langkah kuda yang menginjak tanah. Dia menoleh untuk melihat dua penunggang kuda berlari mendekatinya. Wajah mereka berdua tertutup kecuali matanya, tetapi ia masih mengetahui siapa mereka.

Keduanya berhenti jauh dan melambai padanya.


{Kenapa mereka tidak datang ke sini? Bukankah seharusnya mereka mendatangiku dan bukan sebaliknya?} Philip berpikir mungkin mereka punya sesuatu yang harus dibicarakan secara rahasia.


"Hm, kurasa aku harus kesana."


Dia akhirnya bisa merasa sedikit lebih baik tentang dirinya sendiri dengan mengatakan hal-hal dengan cara yang sok dan mengubah ekspresinya menjadi yang sembrono untuk mencocokkan.
Dia akhirnya merasa sedikit lebih baik setelah menanggapi mereka dengan bentakannya dan mengubah raut wajahnya sesuai dengan perkataan yang telah dia utarakan.

Philip bergerak ke arah mereka dengan menunggangi kuda. Dia telah berlatih menunggang kuda, karena itu menunggai kuda dijalan yang lurus bukanlah masalah untuknya.


"Baron, bagaimana persiapan kalian?"


Wajah mereka ditutupi topeng sehingga sulit untuk mengidentifikasi keduanya, tetapi jika dilihat dari suaranya dan postur tubuhnya, kedua pria itu dapat disimpulkan sebagai Baron Delvin, atau Wayne.

Pakaiannya, bagaimanapun, tidak seperti milik seorang baron.

Hide Armornya agak kotor dan pedang tergantung di pinggangnya. Kudanya terlihat lemah dan tak bernyawa, seperti kuda untuk pertanian, bukan kuda perang. Di sebelahnya Baron Rokerson, atau Igor, yang tampak hampir sama. Penampilan mereka sangat serasi sehingga bahkan kuda mereka terlihat serupa.

Tidak seperti Philip yang mendapat dukungan finansial, mereka pasti sangat miskin. Philip memikirkan tentang saat ketika dia melihat mereka mengenakan pakaian lusuh, dan mencoba sebaik mungkin untuk menyembunyikan rasa superioritas yang hendak muncul diwajahnya.


{Yah, sakarang aku tak bisa menunjukkan kalau aku kesal dengan moral rendah pasukanku pada kedua palkon ini kan? Sangat menjengkelkan.}


Dirinya, sebagai seseorang dengan status yang lebih tinggi, harus menunjukkan kepada orang-orang di bawahnya apa sebenarnya yang membuatnya lebih unggul dari mereka. Tindakan Philip merupakan panutan bagi masyarakat, dan orang-orang dibawahnya harus mengikuti Philip. Dengan begitu, dunia bisa berjalan semestinya.


"Hanya kalian berdua? Bagaimana dengan pasukan kalian?”

"Kami sudah menyiapkan mereka, benarkan?"

"Tepat sekali, prajurit kita akan mengapit Philip-kakka dan membentuk Formasi Sayap Burung."

"Oh! Formasi Sayap Burung!"


Bahkan Philip mengetahui tentang formasi itu. Membuat formasi terkenal seperti itu merupakan hal yang cukup memuaskan untuk dilakukan; seolah-olah dia telah menjadi protagonis dari sebuah dongeng.


"Jadi, jika penyerangannya tidak sesuai rencana, silakan perintahkan pasukan anda mundur. Musuh tidak akan menyebar jika kita hanya pergi ke satu arah. Ingatlah untuk menyebar sejauh mungkin saat kita mundur.”

"Aku mengerti. Tidak apa-apa, kau tidak perlu mengingatkan- ”

"-Bukankah lebih baik memutuskan terlebih dahulu pasukan-pasukan kita akan mundur kearah mana? Mundur ditengah pertempuran bisa jadi sangat sulit di tengah sengitnya pertempuran. Ini juga berlaku untuk Philip-kakka. Ke arah mana anda akan mundur?"


Mereka berbicara seolah-olah mereka telah meramalkan kekalahannya, ini membuat Philip sangat kesal.


"Jadi, kalian meyakini aku akan kalah?"

"Bukan, bukan, bukan seperti itu, Philip-kakka. Pernahkah anda mendengar taktik berpura-pura mundur untuk memusnahkan semua musuh yang mengejar dengan sekali serang?”

"-Ah, aha, ya aku tahu."


{Oh begitu ya}, Philip menerima penjelasan mereka, tetapi karena akan tidak menyenangkan untuk mengakui ketidaktahuannya, dia menanggapinya seolah-olah dia sudah mengetahuinya.


"Seperti yang aku pikirkan, anda sudah mengetahuinya. Yah, karena anda sudah mengerti, itulah strateginya, strategi mundur merupakan salah satu dari bagiannya."


{Yah dalam hal itu ...} Ketika Philip bersiap untuk mendiskusikan ke arah mana dirinya akan mundur, dia telah  menyadari terdapat informasi penting yang hilang.


“Sebelum aku menjawabnya, aku punya pertanyaan. Kalian berdua belum memberi tahuku tentang ukuran pasukan kalian. Berapa banyak orang yang kalian bawa?"

"Masing-masing dari kami membawa 75 orang."


Philip sangat terkejut ketika mereka bisa mengumpulkan lebih banyak orang daripada dirinya sampai dia berpikir {dengan jumlah sebanyak itu, melarikan diri ke arah mana pun pasti akan sama} tidak pernah terlintas dalam benaknya sampai dia menyadarinya. Philip mecoba berpikir rasional, karena disini memanglah wilayah mereka, masuk akal jika tidaklah terlalu sulit untuk mereka melakukannya. Jika ini hanya masalah kuantitas, semuanya akan jauh lebih mudah, masalahnya terletak pada pertimbangan mereka sebelumnya. Philip memperkirakan dirinya bisa mengerahkan setidaknya dua kali lipat jumlah orang seandainya disini wilayahnya.


“... jika kita memiliki prajurit sebanyak itu, bukankah lebih masuk akal bagi kita untuk menyerang pada saat bersamaan? Lagipula, kita memiliki sekitar 200 prajurit di sini.”

"Meskipun itu juga akan menjadi pilihan yang layak, itu bukanlah Formasi Sayap Burung. Untuk menjadikannya Formasi Sayap Burung, pasukan Philip-kakka harus maju terlebih dahulu dengan pasukan kita yang mengapit kedua sisinya.”

"Ahh, jadi itu sebabnya!"


Benar, itu sebabnya. Dia telah sepenuhnya melupakannya.

Wayne menghela nafas. Karena seluruh wajahnya tertutupi, tidak ada yang bisa melihat ekspresinya saat ini.


“Aku senang anda bisa mengerti. Sekarang, ke arah mana kita harus mundur?”

"Ah ya. Kita akan mundur ke wilayah Igor-kakka kalau begitu.”

“Jadi ke arah sayap kiri, aku mengerti. Maka aku akan meminta anda untuk tetap mengikuti rencana pertempuran yang telah kita diskusikan sebelumnya. Tolong juga awasi para pemanah, bukan hal yang aneh bagi kuda untuk membunuh pengendara mereka dalam suatu penyerangan ketika mereka dipanahi oleh musuh.”

"Selama aku memiliki armor ini, aku akan baik-baik saja bahkan jika seekor kuda menginjakku. Ini merupakan item kelas atas yang dibuat oleh blacksmith terkenal dan dimantrai oleh para magic caster.”


Armor Philip merupakan hadiah dari Hilma. Armor itu telah dimantrai dengan sihir yang meningkatkan pertahanannya, memungkinkannya untuk mengungguli set armor yang telah diturunkan sebagai pusaka keluarga di rumahnya. Meskipun dia telah menerima hadiah ini beberapa waktu lalu, dia belum pernah memiliki kesempatan untuk mencobanya. Ini akan menjadi debut armornya.

Baron di sana itu tentu saja tidak memiliki sesuatu yang berkualitas tinggi. Philip berusaha sekuat tenaga untuk menghentikan rasa superioritasnya muncul dalam suaranya.


“Meski begitu, yang terbaik yaitu bertindak dengan hati-hati. Semuanya akan sia-sia jika kakka terbunuh dalam pertempuran. Itulah yang terpenting."

"Itu benar, karena Philip-kakka adalah jendral kita."

“Bahkan jika anda mengenakan armor yang sangat bagus, masih ada titik lemah di mana panah bisa menyerangnya. Selain itu, tidak peduli seberapa kuat armor itu, tidak bisa bertahan melawan sebagian besar mantra. Tolong jangan melemahkan penjagaan anda karena armor itu, lagipula, Philip-kakka adalah jendral kita.”


Peringatan mereka yang berulang kali sangat menjengkelkan Philip, tetapi dia mengerti alasan mereka mengatakannya. Jika seorang jenderal akan dibunuh, maka pertempuran akan berakhir, itu masuk akal.

Mengetahui keduanya melihatnya sebagai pemimpin mereka, Philip tidak bisa menahan senyumnya.


"Tentu saja aku mengerti."

"... Juga, di mana Philip-kakka akan mempersiapkan formasi kita? Akan terlalu berbahaya untuk digunakan di jalanan. Aku percaya akan lebih baik untuk tetap kembali, dengan begitu kita bisa bergegas membantu anda jika kita harus mundur. Terlebih akan sangat membantu jika anda dapat memberi tahu kami posisi anda.”


{Umu, umu.} Philip setuju.


Ketika sang jenderal berada dalam bahaya, merupakan tugas bawahannya untuk bergegas membantunya. Meskipun ini masuk akal, Philip terkejut karena bukan dia yang menyarankan hal ini sejak awal.


{Aku pasti akan menyadari sesuatu seperti itu jika itu diriku yang biasanya ... saat ini aku terlalu bersemangat. Ini merupakan pertama kalinya bagiku merencakan pertempuran berskala sebesar ini.}


Philip sedikit meneguk ludahnya dan menarik napas panjang.


"Apa-, ada apa?"

"Ah, tidak ada apa-apa. Aku hanya mencoba untuk meredam semangat yang menyala-nyala untuk pertempuran ini di hatiku.”

"...Oh, aku mengerti. Begitukah…? Umm, lalu di mana Philip-kakka ingin menunggu karavan?”

"Pertama-tama-"


Philip melihat ke kiri dan ke kanan.

Jalan beraspal ini agak lebar, lebarnya cukup untuk dua kereta melewatinya secara bersamaan. Jalan ini sepertinya menjadi sumber penghasilan utama bagi Baron Delvin.

Ada hutan rimbun di sisi jalan tetapi lokasi strategis di mana bandit biasanya bersembunyi, telah sepenuhnya dibersihkan dan hanya menyisakan rerumputan.

Hutan ini berada di bawah manajemen manusia, sepertinya babi-babi yang mencari makanan disepanjang jalan ini dibolehkan begitu saja, maka mereka tidak perlu waspada terhadap monster atau binatang buas.

Jika itu masalahnya-


"Kita akan menyiapkan penyergapan di dalam hutan."

"Aku mengerti. Jika itu keputusannya, aku tahu tempat yang cocok. Ada sepetak hutan di mana ranting, rerumputan, dan yang lainnya sudah bersihkan, yang memungkinkan kita mundur dengan menunggangi kuda. Bagaimana menurut anda tentang itu?"

"Memangnya ada tempat seperti itu?"

"Tentu saja ada. Ketika Philip-kakka memutuskan untuk melakukan penyergapan di wilayah ini kami tahu sesuatu seperti itu diperlukan, untuk itulah kami meluangkan waktu untuk menyiapkan tempat itu.”


Philip telah berulang kali memilih bidang tanah ini untuk penyergapan di pertemuan mereka sebelumnya. Meskipun dia telah meminta pendapat Wayne dan Igor, keduanya menurut pada Philip. Pasti cukup merepotkan bagi mereka untuk membuat persiapan setelah itu.


"Lalu aku benar-benar berterima kasih pada kalian."

"Jangan seperti itu, karena sejak awal anda harus mengambil risiko menjadi pemimpin, apa yang kita lakukan hanyalah supaya kita impas kan?"

"Seperti yang diharapkan dari Wayne-kakka!"


Keduanya menuntun Philip ke lokasi itu dan tepat seperti yang telah mereka gambarkan. Seharusnya tidak ada masalah bagi kuda untuk berlari kencang jika lahannya dalam kondisi seperti ini.

Saat dia selesai berdiskusi dengan keduanya, Philip berjalan kembali menuju tentaranya.

Philip tidak bisa berhenti berkeringat karena full body armornya, dan karena mereka berada di tanah yang tidak rata, helmnya dapat menyebabkan dia kehilangan keseimbangan dan mudah jatuh.


"Whooo, whooo"


Philip mendesah ketika dia melepas helmnya dan menjepitmya di bawah pinggangnya. Dia mengambil saputangan dan dengan kesal mulai mengelap dahinya.

Philip merasa kalau memakai armornya merupakan sebuah kesalahan. Meskipun kemampuan pertahanan sebuah armor merupakan kualitasnya yang paling penting, mobilitas jugalah sama pentingnya. Dia sepertinya mengingat terdapat mantra yang meringankan sebuah armor, kedepannya dia harus meminta armornya dimantrai sihir itu. Atau mungkin mantra yang mencegahnya berkeringat saat mengenakan armornya.

Dia harus berbicara dengan Hilma tentang hal ini lain kali di ibukota.

Setelah membuat catatan diingatannya tentang hal itu, dia berjalan kembali ke lokasi di mana dia melihat tentaranya yang terlihat bosen karena tak melakukan apa-apa.


"Maaf telah menunggu"

"-tuan. Siapa kedua pria yang menutupi wajahnya itu? Penampilannya seperti bandit. Apakah kita sedang diperingatkan?"

“Itu tidak mungkin, pria itu jelas seorang bangsawan Kingdom yang terhormat. Berbicara tentang penampilannya, jangan katakan itu. Tidak setiap bangsawan mampu membeli full body armor.”


Ditambah lagi, selama pertempuran di Dataran Katze, keluarga-keluarga yang kehilangan penerusnya juga kehilangan banyak senjata dan pusaka keluarganya. Keluarga Philip berada dalam situasi yang sama seperti itu, jika dia kehilangan set armor ini, akan sulit untuk mendapatkannya lagi.

Meskipun kelihatannya para tentara tidak mempercayai alasannya, tidak perlu memaksa mereka untuk menerimanya.


"Baik! Mari kita tunggu sampai karavan tiba! Setelah mereka datang, kita akan segera menyerangnya!”


Philip tidak mendengar jawaban dan mengangkat suaranya.


"Apakah kalian mengerti!!?"

"Kami mengerti ..."


Meskipun semua orang menjawab dengan enggan, suara mereka serempak masih cukup keras untuk didengar.

Philip tidak puas dengan jawaban mereka, tetapi dia harus membiarkannya begitu saja. Bagaimanapun, ini merupakan pertempuran pertama mereka, tidak perlu bagi mereka untuk memenuhi semua harapannya.

Agar mereka berkembang menjadi prajurit yang dapat diandalkan, mereka harus fokus pada masalah yang paling mendesak.

Ketika Philip memikirkan sesuatu seperti itu, dia duduk di tanah seolah-olah tubuhnya menyerah pada keinginan untuk beristirahat.



---------


Mini-FAQ Hitori-san:
Q : Apakah part yang kau terjemah sesuai dengan yang ada di bukunya?
A : Tidak, part disini artinya rilisannya dibagi-bagi
Q : Udah dihalaman berapa sekarang?
A : Dengan part ini, udah di halaman 78/568
Q : Kemana saya bisa mengirim umpan balik?
A : Langsung saja kirim ke fanficerrors@protonmail.com


Jika ada kalimat/kata/idiom yang salah di terjemah atau kurang enak dibaca, beritahu kami di 
kolom komentar, dilarang copas dalam bentuk apapun macam-macam kuhajar kau.


PREVIOUS | INDEX | NEXT

Baca doank, komen kaga !!!
Ampas sekali kalian ini



Peringatan: Novel ini versi bajakan !!! Author ngambek, auto delete!! Belilah Novel aslinya jika sudah tersedia!!

66 comments:

  1. Hahha makin kocak nih sih bohlam..lanjut terus min πŸ‘

    ReplyDelete
  2. Mantap Philip emng gg, semangat min nge tlnya.

    ReplyDelete
  3. waw baru sampai 78 dari 568 halaman. ngeri juga

    ReplyDelete
  4. mini faq ya ikutan ditranslate... :v

    ReplyDelete
  5. Akhirnya di translate juga...25 kali berkunjung baru dirilis..
    Makasih om..

    ReplyDelete
  6. Semangat philip kkaka! berkat dirimu perang selanjutnya akan terbuka.. wkwk

    ReplyDelete
  7. Lanjutkan Mimin.. jgn kendor.. hohoho

    ReplyDelete
  8. Mantep min jangan terpengaruh sama Orang luar utk menunda projek lu,sedari awal overlord itu bahasa jepang otomatia target pasarnya orang jepang

    ReplyDelete
  9. Jgn baca dan komen doang.... Klik juga iklannya ampas...

    ReplyDelete
  10. Kalo gak di klik iklannya, pasang iklan pop-up aja min...

    ReplyDelete
  11. Si lampung ajaib hh 😁😁😁😁

    ReplyDelete
  12. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  13. Menyerang kawanan Ainz dengan sekop?
    Oke
    Kita rehat sejenak! :V

    ReplyDelete
  14. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  15. #menjemputkematia
    ��������

    ReplyDelete
  16. Lgi d kereta biar g bosen baca ginian

    ReplyDelete
  17. Superioritas pala lu. Btw mantap min

    ReplyDelete
  18. pengin beli tapi gk bisa bahasa inggris/jepang mau gimana lagi. paling" beli buat koleksi wkwkwk

    ReplyDelete
  19. Ttep smngat min , ngakak ngeliat kelakuan philip

    ReplyDelete
  20. Mantab kali, selalu ditunggu update nya min

    ReplyDelete
  21. Ada sedikit masalah penterjemahan yg "sepele" tapi mengingat overlord adalah cerita yg begitu detil, fakta sepele ini bisa jadi fatal.

    Saya bertanya "Di jalanan yg beraspal"? Beneran jalanannya di aspal? Bukan paving? Kalau jalanannya aspal, berarti di jaman itu udah ada alkemi tho? Aspal ga mungkin bisa dibuat tanpa alkemi, sedang dari vol sebelum2nya tidak pernah maruyama menyinggung alkemi. Serius novel aslinya bilang aspal? Bukan "paved road"?

    ReplyDelete
  22. Jangan salah gan, overlord ini ngambil tema dunia abad pertengahan.
    Sementara di abad tersebut sudah ditemukannya yang namanya aspal, malah sudah diaplikasikan untuk pembuatan jalan raya.

    Sejarah penggunaan aspal untuk pembuatan jalan di abad modern dapat ditelusur kembali pada masa abad ke 18. Seorang insinyur Inggris yang bernama John Metcalf (lahir 1717) harus membangun jaringan jalan di Yorkshire dengan total panjang hampir 300 km. Jalan dibuat dengan batuan berukuran besar diletakkan di bawah sebagai pondasi yang kuat, kemudian di atasnya diberi batu galian, lalu kerikil sebagai lapis penutup. Thomas Telford membangun jaringan jalan di Skotlandia pada tahun 1803-1821 sepanjang hamper 1.500 km. Telford menyempurnakan metode pembuatan jalan Metcalf, dengan mengganti batu galian dengan batu pecah. Ketebalan lapisan batu pecah juga sudah dihitung berdasar karakter lalu lintas yang akan melintasi.

    ReplyDelete
  23. Hah lawan Undead pake pacul anda bercanda :v

    ReplyDelete
  24. η²Ύη₯žγ―ηΏ»θ¨³γ—ηΆšγ‘γΎγ™

    ReplyDelete
  25. Si Bocah Chunibyo mulai beraksi nich... :>)

    ReplyDelete
  26. Kontol modal baca gratis aja ngomel² masalah aspal kalo gak suka ya translate sendiri gak usah nyalahin orang

    ReplyDelete
  27. Maruyama sensei bercanda awkwkwokwkwk

    ReplyDelete
  28. komen nih aku min karna anda ngegas di endingnya jadi kasihan wkwkwkwk

    ReplyDelete
  29. Smoga mnjdi BOHLAM WC yg brmnfaat..

    ReplyDelete
  30. Gw suka cerita orang2 goblok kayak gini. Bentar lagi disiksa sama albedo atau dijadiin abelion sheep. Aowkowkowkowkowkowk

    ReplyDelete
  31. Kelakuan lu bolham, bikin pembaca ngakak :v

    ReplyDelete
  32. Rencana yang bagus Philip, sekarang kembali bermimpi

    ReplyDelete


EmoticonEmoticon